Niat karena Allah

Niat Karena Allah SWT


niat-karena-allah
Niat karena Allah harus selalu kita dahulukan dalam mengerjakan aktifitas apapun.
Niat karena Allah harus selalu kita dahulukan dalam mengerjakan aktifitas apapun. Sering kita mendengar kalimat, “Ana uhibbuki fillah,“Aku mencintaimu karena Allah“. Atau saat kita akan mengaji, kita diingatkan oleh guru ngaji untuk selalu menata hati agar selalu karena Allah SWT. Sebenarnya apakah niat karena Allah itu? Mengapa di setiap keadaan, manusia selalu diingatkan untuk menata hatinya untuk selalu niat karena Allah. Sebelum melangkah lebih jauh, yuuk kita bahas pengertian dan maksud dari niat itu sendiri.
NIAT
Siapa saja yang menginginkan melakukan sesuatu, maka pasti ia telah berniat. Semisal di hadapannya disodorkan makanan, lalu ia punya keinginan untuk menyantapnya, maka ketika itu pasti ia telah berniat. Niat itu pekerjaannya hati, bukan pekerjaan lisan. Niat letaknya dalam hati dan tidak perlu sama sekali diucapkan/dilafadzkanKarena niat itu pekerjaan hati, antara makhluk dengan sang Peciptanya, Allah Subhanallahu wa ta’ala.
Akan tetapi banyak orang yang antara lisan dengan hatinya tidak sama, sebagai perbandingan ada seseorang bershadaqoh kepada pengemis denganniat karena Allah tanpa diucapkan, walaupun sedikit yang yang dishadaqohkan maka insyaAllah ia akan mendapat pahala di sisi Allah. Sebaliknya, ada orang kaya yang memberi shadaqoh $1,000 kepada orang miskin dengan mengatakan,
“Aku memberimu uang $1,000 ini kepadamu dengan niat ikhlas lillahi ta’ala, aku tidak mengharap apa-apa darimu atau dari orang lain,”
tapi ketika disanjung, ia merasa bangga dipuji sebagai dermawan. Maka sia-sialah shadaqoh $1,000 tersebut dan ucapan niatnya sama sekali tidak berguna.
Bahkan melafadzkan niat sungguh menunjukkan dangkalnya akal dan agama seseorang. Dari sisi agama melafadzhkan niat adalah suatu ajaran yang tidak ada tuntunannya. Dari sisi akal sehat, contoh melafadzhkan niat sebagaimana halnya orang yang hendak makan. Lantas ia berniat, “Saya berniat untuk meletakkan tanganku di atas piring ini …” Maka ini semisal dengan oarang melafadzhkan niat “Aku berniat shalat wajib pada saat ini sebanyak empat raka’at secara berjam’ah dikerjakan tepat waktu karena Allah Ta’ala.” Kerjaan seperti melafadzhkan niat ketika akan makan maupun sholat, tentu saja pekerjaan orang yang kurang paham dan jahil.
Yang namanya niat adalah sampainya ilmu, artinya jika sampai ilmu untuk melakukan sesuatu, maka berarti telah niat secara pasti. Jika seseorang ingin mengerjakan sesuatu, maka secara logika tidak mungkin ia melakukannya tanpa niat. Begitu pula tidak mungkin seseorang yang tidak punya kehendak apa-apa dikatakan telah berniat.
NIAT KARENA ALLAH SWT
Niat karena Allah SWT adalahmelakukan segala perbuatan yang tujuannya hanya kepada Allah SWT. Atau dalam bahsa Arabnya yaitu Lillahi-Ta’ala (kepada Allah yang maha luhur). Tujuannya adalah “Yarjuuna Rohmatahu Wayakhoofuuna Adzaabah”  alias niat yang hanya berharap Rohmat Allah (ridho Allah dan surga Allah) dan khawatir/takut dari azab/siksa/neraka Allah. Ini mudah diucapkan damun dalam prakteknya perlu perjuangan dan konsistensi. Yap, melakukan segala aktifitas keseharian kepada Allah yang semata diniati karea Allah akan mendatangkan pahala dan pertolongan Allah. Sebaliknya, bila melakukan segala aktifitas keseharian yang tidak dilandasii karena Allah, tidak mendatangkan pahala bahkan merugikan diri sendiri. Jadi hanya amalan kita setiap hari yang “karena Allah” saja yang akan dibalas pahala oleh Allah.
siduta-instagram-niat-karena-allah-ayat-alquran-allail-19-21
Masih ingatkah kita pada sebuah hadits yang mengisahkan orang yang ahli membaca Al Qur’an, ahli perang hingga ia mati dalam peperangan tersebut dan ahli shodaqoh. Saat didatangkan di hadapan Allah dan diperlihatkan pahala/balasan/ganjaran mereka, Allah bertanya kepada mereka mengenai apa saja amal mereka sehingga pahalanya sedemikian besar. Mereka pun menjawab, kami beramal karena-Mu ya Allah! Allah pun menjawab : “Kadzabta!” alias “Bohong kamu! Kamu ahli membaca Al Qur’an, kamu shodaqoh karena kamu ingin disebut dermawan, kamu berperang karena kamu ingin disebut pemberani.”
Duhh..ketahuan deh, ternyata amalan besarnya tidak dilandasi karena Allah. Akhirnya ketiga orang tersebut diseret malaikat atas perintah Allah untuk dimasukkan neraka, masya Allah! Tanya kenapa? Karena ibadahnya riya’ annas (pamer pada manusia), sum’ah (ingin didengar).
Banyak pekerjaan ibadah yang rentan perubahan niat ini. Niat bisa terdeviasi dan terdeformasi. Niat karena Allah dan tidak, perbedannya tipis. Niat karena Allah hanya diketahui Allah dan dirinya, malaikat saja tidak tahu kita sudah menata hati untuk niat karena Allah ataukah belum. Kita hadir ke pengajian seudahkah diniati niat karena Allah? Bukan karena faktor “kebiasaan” misalnya hari Senin dan Rabu “biasanya” ada pengajian tanpa dipasang niat karena Allah. Apakah kita datang ke pengajian karena “seseorang” misal karena ada “kecengan“? Hehe…apa ada yang kene’an ya? 😀
Kita perlu memantapkan dalam hati saat beribadah apapunseperti sholat, zakat, puasa, ibadah haji, shodaqoh, amal shalih kita. Bukan karena dilihat orang lain, bukan karena ingin di dengar oleh orang lain, bukan karena ingin dapat pujian manusia, dan bukan karena pamer amalan. Atau karena orang lain tidak mengerjakan amal shalih tersebut kemudian kita juga tidak mengerjakan, lha pahala & surga khan untuk kita sendiri, pahala yo damel kulo piyambak.
siduta-instagram-niat-karena-allah-ayat-alquran
Nabi Muhammad SAW dan awalul mu’minin Muhajirin berhijrah dengan niat karena Allah, seperti yang difirmankan Allah :
“Juga bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung hal aman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS 59:9)
Niat merupakan syarat syahnya suatu ibadah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam.
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.” HR. Bukhari.
Niat thoharoh (bersuci) seperti akan berwudhu, mandi, tayamum, niat shalat, puasa, haji dan zakat, menunaikan kafaroh, serta berbagai ibadah lainnya, niat tersebut tidak perlu dilafadzhkan. Bahkan saat kira berpuasa, niat harus ada sebelum terbit fajar. Niat tidak perlu dilafalkan, niat ada di dalam hati. Adapun apabila kita sudah melalukan sholat tarawih dan sahur, itu sudah termasuk niat.
Jangan sampai kita berpuasa niatnya karena diet kesehatan dan bukan karena menjalankan kewajiban puasa ramadhan, bukan karena taat pada perintah Allah. Orang yang puasa karena niat diet, insyaAllah akan memperoleh kesehatan, namun tidak memperoleh pahala akhirat. Sedangkan yang melakukan puasa karena taat pada perintah Allah dan Rasulnya, mendapat kedua-duanya, yaitu manfaat kesehatan dan pahala akhirat.
Renungan Untuk Kita 
Mendekati hari raya qurban, marilah kita menata hati kita untuk menyembelih hewan diniati karena Allah. Yakin, bahwa bukan banyaknya hewan qurban yang dihitung pahala, akan tetapi ketaatan kepada Allah SWT lah yang menjadi hitungan pahala disisiNya. Jangan sampai di hati kita muncul setitik niat untuk dipuji orang, “Wah, Bapak ini bondho ya, sampai bisa shodaqoh qurban seekor sapi. Padahal kan rupiah sedang naik.” Lalu mendengar kalimat pujian tersebut, kita merasa bangga. Dalam islam, ini tidak diperbolehkan. Tetap harus diniati ibadah pada Allah, dan mengikuti sunnah Rasul. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, janganlah membuat amalan yang tanpa tuntutan. Karena petunjuk beliau sudah cukup bagi kalian. Semua amalan tanpa tuntunan adalah sesat.”(Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy)

عن سفيان الثوري قال :  مَا عَلَجْتُ شَيْأً أَشَذَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِيْ لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ.  أخرجه أبو نعيم في الحية

Dari Sufyan Attsauriyy, Sufyan berkata :
“Sesuatu yang sangat sulit aku sembunyikan yaitu niat, karena niat itu mudah berubah-ubah.”
Kita ibadah memang harus dipasang niat karena Allah, kita ibadah memang berharap Ridho Allah dan tentunya dimasukkan surga Allah, sesuai doa kita “Robbanaa aatina fiddunya hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqinaa adzaabannar”,”Allohumma inni as aluka ridhooka wal jannah, wa a’uudzubika min sakhotika wannar”,”Allohumma innaa na’udzubika min annusyrika bika syai’an na’lam, wa nas taghfiruka limaa la na’lam.”
Kita ibadah ya tentu harus ada pengharapan, dan Allah pun memerintahkan demikian, dalam doa-doa yang diajarkan Rasulullah juga demikian yaitu mencari ridho dan surga Allah dan supaya terhindar dari adzab dan neraka Allah.
Silahkan kita renungkan sendiri, manakah yang benar, perlukah melafadzhkan niat atau tidak? Namun tentu saja itu berdasarkan ilmu dan bukan sekedar menurut hawa nafsu semata atau manut pada apa kata Pak Kyai semata.
Akhirnya, kita perlu banyak berdoa, semoga Allah senantiasa menjaga niat kita tetap lempeng bin lurus niat karena Allah semata, tidak niat riya’, ingin didengar(sum’ah), pupujieun (ingin dipuji), dll. Aamiin…
*diambil dari ldii.or.id dan berbagai sumber