“Allahumma arinal haqqa, haqqaa, warzuqnattiba’ah, wa arinal baathila baathila, warzuqnajtinabah” “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang haq (benar) itu sebagai haq (benar), dan karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk mengikutinya (memperjuangkannya), dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk menjauhinya (menghapuskannya).
Agar istrimu tetap cantik dimatamu
~untuk kita renungkan~
Seorang pria mengatakan:
🔸ﺣﻴﻦ ﺃﻋﺠﺒﺖ ﺑﺰﻭجتى .. ﻛﺎﻧﺖ ﻓﻲ ﻧﻈﺮﻱ
ﻛﺄﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻢ ﻳﺨﻠﻖ ﻣﺜﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ
Dulu, saat aku mengagumi istriku, dalam pandanganku
seakan-akan Allah tidak menciptakan wanita sepertinya di dunia ini.
🔸ﻭﻟﻤﺎ ﺧﻄﺒﺘﻬﺎ .. ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮﻳﻦ ﻣﺜﻠﻬﺎ
Saat aku meminangnya, ternyata aku melihat banyak wanita yang sepertinya.
🔸ﻭﻟﻤﺎ ﺗﺰﻭﺟﺘﻬﺎ .. ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮﻳﻦ ﺃﺟﻤﻞ ﻣﻨﻬﺎ
Saat aku menikahinya, ternyata aku melihat banyak wanita yang lebih cantik darinya.
🔸ﻓﻠﻤﺎ ﻣﻀﺖ ﺑﻀﻌﺔ ﺃﻋﻮﺍﻡ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺍﺟﻨﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﻥ ﻛﻞُّ ﺍﻟﻨَﺴَﺎﺀِ ﺃﺣْﻠَﻰ ﻣِﻦْ ﺯَﻭﺟَﺘِﻲ !
Setelah berlalu beberapa tahun dari pernikahan kita, ternyata aku melihat semua wanita
jauh lebih menawan dari istriku.
🔸ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺃﻓﺄﺧﺒﺮﻙ ﺑﻤﺎ ﻫﻮ ﺃﺩﻫﻰ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﺃﻣﺮّ ؟ !
Seorang Syeikh lantas bertanya, "Maukah kau aku beritahu tentang kenyataan yang lebih lebih dahsyat dan lebih pahit dari itu..?
🔸ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ : ﺑﻠﻰ
Laki-laki itu menjawab, "Tentu saja mau"
🔸ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻭﻟﻮ ﺃﻧﻚ ﺗﺰﻭﺟﺖ ﻛﻞ ﻧﺴﺎﺀ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ..
ﻟﺮﺃﻳﺖ ﺍﻟﻜﻼﺏ ﺍﻟﻀﺎﻟﺔ ﻓﻲ ﺷﻮﺍﺭﻉ ﺍﻟﻤﻨﺎﻃﻖ ﺍﻟﺸﻌﺒﻴﺔ
ﺃﺟﻤﻞ ﻣﻦ ﻛﻞّ ﻧﺴﺎﺀ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ !!
Sang Syeikh kemudian menimpali, "Sekiranya kamu menikah dengan
semua wanita yang ada di dunia ini,
maka kamu akan melihat anjing anjing (betina)
yang tersesat di jalan jauh lebih cantik dari semua wanita yang ada di dunia"
🔸ﺍﺑﺘﺴﻢ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﺑﺘﺴﺎﻣﺔ ﺧﻔﻴﻔﺔ ﻭﻗﺎﻝ : ﻟﻤﺎﺫﺍ ﺗﻘﻮﻝ ﺫﻟﻚ ؟
Laki-laki tadi tersenyum ringan lalu bertanya, "Kenapa anda berkata seperti itu ?".
🔸ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ :
ﻷﻥ ﺍﻟﻤﺸﻜﻠﺔ ﻟﻴﺴﺖ ﻓﻲ ﺯﻭﺟﺘﻚ، ﺍﻟﻤﺸﻜﻠﺔ ﺃﻥ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ
ﺇﺫﺍ ﺃﻭﺗﻲ ﻗﻠﺒﺎً ﻃﻤّﺎﻋﺎً، ﻭﺑﺼﺮﺍً ﺯﺍﺋﻐﺎً،
ﻭﺧﻼ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ
ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﻤﻸ ﻋﻴﻨﻪ ﺇﻻ ﺗﺮﺍﺏ ﻣﻘﺒﺮﺗﻪ .. ﻣﺸﻜﻠﺘﻚ ﺃﻧﻚ ﻻ ﺗﻐﺾّ ﺑﺼﺮﻙ ﻋﻤﺎ ﺣﺮّﻡ ﺍﻟﻠﻪ
ﺃﺗﺮﻳﺪ ﺷﻴﺌﺎً ﺗﺮﺟﻊ ﺑﻪ ﺍﻣﺮﺃﺗﻚ ﺇﻟﻰ ﺳﺎﻟﻒ ﻋﻬﺪﻫﺎ ( ﺃﺟﻤﻞﻧﺴﺎﺀ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ) ؟
Syeikh menjawab, "Masaalahnya bukan pada istrimu, masalahnya bila manusia memiliki hati yang rakus dan mata yang jelalatan, serta tak lagi punya rasa malu kepada Allah, maka tidak ada yang dapat menutupi matanya kecuali tanah kuburannya.
Permasaalahanmu, kamu tidak bisa menundukkan pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan Allah.
Apakah kamu ingin sesuatu yang akan membuat istrimu selalu terlihat seperti dulu (wanita yang paling cantik di dunia ) ?
🔸ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ : ﻧﻌﻢ
Laki-laki itu menjawab, "Ya".
🔸ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺍﻏﻀﺾ ﺑﺼﺮﻙ
Syeikh mengatakan, "Tundukkan pandanganmu"
🔸Catatan:
Allah azza wa jalla berfirman:
"Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; sesungguhnya Allah Amat Mendalam PengetahuanNya tentang apa yang mereka kerjakan."
(An-Nur 24:30)
🔸Saya kira, ayat diatas bisa difahami bersama, sehingga tidak perlu ditafsirkan lagi. Di dalamnya Allah mewajibkan bagi laki-laki dan perempuan untuk menundukkan pandangan serta menyebutkan hikmah dari kewajiban tersebut, berupa terjaganya kesucian dan kehormatan diri.
🔸Dahulu, jauh sebelum datangnya islam, masyarakat jahiliyah telah mengetahui bahwa menjaga pandangan adalah bagian dari akhlak terpuji. Antarah bin Syaddad, seorang penyair kawakan pada masa jahiliyah mengatakan, "
🔸وَأَغُضُّ طَرْفِي مَا بَادَتْ لِي جَارَتِي # حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا
“Dan akupun terus menundukkan pandanganku, saat istri tetanggaku nampak, begitulah hingga ia masuk ke dalam rumahnya"
🔸Prof. DR. Abdurrazzaq Al-Badr memberi komentar bahwa, ”inilah salah satu diantara akhlak mulia yang dipraktekkan oleh masyarakat pada zaman jahiliyah, namun sangat memprihatinkan justru di zaman sekarang (sebagian) kaum muslimin malah meninggalkannya.”
🔸Ingat..!
العَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظْرُ
“Dua mata itu berzina, dan zina keduanya adalah dengan pandangan” (HR. Muslim)
🔸Bagaimana bila tak sengaja memandang..?
Ingat kembali pesan Rasulullah kepada sahabat Ali bin Abi Thalib -radhiallahu anhu-:
يَا عَلِيّ ُ..! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ
“Wahai Ali.. jangan kau ikutkan pandangan pertama (tanpa sengaja) dengan pandangan selanjutnya, karena bagimu pandangan yang pertama dan tidak halal bagimu
Kisah Zahid
Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia merupakan salah seorang Ahlus Suffah yang tinggal di Masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya, tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya dengan agak gugup.
"Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau sendiri saja," Rasulullah SAW menyapa.
"Allah bersamaku ya Rasulullah," kata Zahid.
"Maksudku bukan itu. Kenapa selama ini engkau membujang saja ? Apakah engkau tidak ingin menikah ?" tanya Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, "Ya Rasulullah, aku ini adalah seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah ?"
"Asal engkau mau, itu urusan yang mudah !" kata Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada seorang wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawa ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.
"Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia untuk diberikan lepadamu saudaraku."
Said menjawab, "Adalah suatu kehormatan buatku."
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi perkawinan Arab yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah ?"
Zahid menjawab, "Apakah engkau pernah melihat aku berbohong ?"
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, "Wahai Ayah, kenapa sedikit tegang dengan tamu ini ? Bukankah lebih baik disuruh masuk?"
"Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya," kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, "Wahai Ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya. Mereka semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah !" kata Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, "Wahai saudaraku, bukan aku menghalanginya. Tetapi engkau tahu sendiri bahwa anakku tidak mau dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak."
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, "Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama Rasul ?"
Akhirnya Said berkata, "Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah."
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah tidak berkata bahwa yang melamar ini adalah Rasulullah, kalau begitu segera saja wahai Ayah, kawinkan aku dengan pemuda ini. Karena aku ingat firman Allah dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) diantara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar, dan kami taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung'". (Qs. An Nur : 51)"
Pada hari itu Zahid merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini ia merasakan bahagia yang tiada tara. Segera setelah itu, Zahid pamit pulang. Sampai di masjid ia langsung bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
"Bagaimana Zahid ?" tanya Rasulullah.
"Alhamdulillah diterima ya Rasul," jawab Zahid.
"Sudah ada persiapan ?"
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, "Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa."
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, 'Ustman, dan 'Abdurrahman bin 'Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah bersiap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, "Ada apa ini ?"
Sahabat menjawab, "Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, apakah engkau tidak mengerti ?".
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, "Wahh,, kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus."
Para sahabat menasehatinya, "Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang ?"
Zahid menjawab dengan tegas, "Itu tidak mungkin !"
Lalu Zahid menyitir sebuah ayat yang berbunyi, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Qs. At Taubah : 24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, "Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah."
Lalu Rasulullah membacakan Ayat, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(Qs 'Ali Imran : 169-170).
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Qs. Al Baqarah : 154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfah pun berkata, "Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat."
Refleksi Hikmah :
Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, "Urusan Allah di atas segalanya"
Man, lion and a honeycomb
Once a man saw in his dream, that a lion was chasing him. The man ran to a tree, climbed on to it and sat on a branch. He looked down and saw that the lion was still there waiting for him. The man then looked to his side where the branch he was sitting on was attached to the tree and saw that two rats were circling around and eating the branch. One rat was black and the other one was white. The branch will fall on the ground very soon. The man then looked below again with fear and discovered that a big black snake had come and settled directly under him. The snake opened its mouth right under the man so that he will fall into it. The man then looked up to see if there was anything that he could hold on to. He saw another branch with a honeycomb. Drops of honey were falling from it. The man wanted to taste one of the drops. So, he put his tongue out and tasted one of the falling drops of honey. The honey was amazing in taste. So, he wanted to taste another drop and then another and as a result, he got lost into the sweetness of the honey. He forgot about the two rats eating his branch away, the lion on the ground and the snake that is sitting right under him. Suddenly when the branch broke he remembered all the dangers woke up from his sleep.
Since this was an unique dream, the man went to a pious scholar of Islam to know its meaning. The scholar said "The lion you saw is your death. It always chases you and goes where ever you go. The two rats, one black and one white, are the night and the day. Black one is the night and the white one is the day. They circle around, coming one after another, to eat your time as they take you closer to death. The big black snake with a dark mouth is your grave. It's there, just waiting for you to fall into it. The honeycomb is this world and the sweet drops of honey are the luxuries of this world. We like to taste a little of the luxuries of this world and it's very sweet. Then we want to taste little more and then more. Meanwhile, we get lost into it and we forget about our time, we forget about our death and we forget about our grave."
May Allah wake us up from the sleep and save us before it's too late. Ameen.
Kesabaran Urwah bin Zubair
Abu Abdillah atau Urwah bin Zubair bin Al-Awwam adalah di antara sederet tabiin yang memiliki kucuran mata air hikmah untuk generasi umat sesudah beliau. Adik dari Abdullah bin Zubair ini memberikakan pelajaran tentang nilai sebuah kesabaran.
Suatu hari cucu Abu Bakar Ash-shiddiq ini mendapat tugas untuk menemui khalifah Al-Walid bin ‘Abdil Malik di ibukota kekhalifahan, yaitu Damaskus di negeri Syam. Bersama dengan rombongan, ‘Urwah akan menempuh perjalanan dari Madinah menuju Damaskus yang saat ini menjadi negara Yordania.
Ketika melewati Wadil Qura, sebuah daerah yang belum jauh dari Madinah, telapak kaki kiri beliau terluka. Tabiin yang lahir pada tahun 23 Hijriyah ini menganggap biasa lukanya. Ternyata, luka tersebut menanah dan terus menjalar ke bagian atas kaki Urwah.
Setibanya di istana Al-Walid, luka di kaki kiri Urwah tersebut sudah mulai membusuk hingga betis. Urwah pun mendapatkan pertolongan dari Khalifah Al-Walid yang memerintahkan sejumlah dokter untuk memberikan perawatan.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan, para dokter yang memeriksa salah seorang murid dari Aisyah binti Abu Bakar ini mempunyai satu kesimpulan. Kaki kiri Urwah harus diamputasi, agar luka yang membusuk tidak terus menjalar ke tubuh.
Urwah menerima keputusan tim dokter ini. Dan dimulailah operasi amputasi. Seorang dokter menyuguhkan Urwah semacam obat bius agar operasi amputasi tidak terasa sakit. Saat itu, Urwah menolak dengan halus.
Beliau mengatakan, “Aku tidak akan meminum suatu obat yang menghilangkan akalku sehingga aku tidak lagi mengenal Allah, walaupun untuk sesaat.”
Mendengar itu, para dokter pun menjadi ragu untuk melakukan amputasi. Saat itu juga, Urwah mengatakan, “Silakan kalian potong kakiku. Selama kalian melakukan operasi, aku akan shalat agar sakitnya tidak sempat kurasakan.”
Mulailah tim dokter memotong kaki Urwah dengan gergaji. Selama proses operasi itu Urwah tampak khusyuk dalam shalatnya. Sedemikian kuatnya ingat kepada Allah saat shalat sampai tidak merasakan saat anggota tubuhnya diamputasi. Masya Allah! Tidak sedikit pun suara rintihan keluar dari mulut beliau.
(Note - Kisah mengenai kekhusyu-an shalat Urwah bin zubair juga disinggung dalam artikel berjudul 'Khusyu' oleh bp. H. Teddy Suratmadji dalam majalah Nuansa Persada terbaru... Yang ingin membacanya bisa menghubungi saya)
Melihat pengalaman yang tidak mengenakkan dari seorang cucu sahabat terkenal itu, khalifah Al-Walid menghampiri Urwah yang masih terbaring. Ia mencoba untuk menghibur.
Tapi, dengan senyum Urwah mengucapkan sebuah kalimat, “Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu. Sebelum ini, aku memiliki dua kaki dan dua tangan, kemudian Engkau ambil satu. Alhamdulillah, Engkau masih menyisakan yang lain. Dan walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku namun masa sehatku masih lebih panjang hari-hari sakit ini. Segala puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau ambil, dan atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku dari masa sehat.”
Mendengar itu, Khalifah Al-Walid bereaksi, “Belum pernah sekali pun aku melihat seorang tokoh yang kesabarannya seperti dia.”
Beberapa saat setelah itu, tim dokter memperlihatkan potongan kaki yang diamputasi itu kepada Urwah. Melihat potongan kakinya, beliau mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui, tidak pernah sekalipun aku melangkahkan kakiku itu ke arah kemaksiatan.”
Ujian yang Allah berikan kepada Urwah tidak sampai di situ. Malam itu juga, bersamaan dengan telah selesainya operasi pemotongan kaki, Urwah mendapat kabar bahwa salah seorang putra beliau yang bernama Muhammad -putra kesayangannya- meninggal dunia. Muhammad meninggal karena sebuah kecelakaan: ditendang oleh kuda sewaktu sedang bermain-main di dalam kandang kuda.
Dalam keheningan malam itu, Urwah berucap pada dirinya sendiri, “Segala puji hanya milik Allah, dahulu aku memiliki tujuh orang anak, kemudian Engkau ambil satu dan masih Kau sisakan enam. Walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku, hari-hari sehatku masih lebih panjang dari masa pembaringan ini. Dan walaupun Engkau telah mengambil salah seorang anakku, sesungguhnya Engkau masih menyisakan enam yang lain.”
Kedekatan Urwah bin Zubair dengan doa kepada Allah memang sudah menjadi karakter dalam kehidupnya. Suatu kali, ia pernah mendapati seorang yang shalat kemudian berdoa dengan tampak tergesa-gesa .
‘Urwah memberi nasihat kepada orang itu, “Wahai saudaraku, tidakkah engkau memiliki kebutuhan kepada Rabb-mu dalam shalatmu? Adapun aku, aku selalu meminta sesuatu kepada Allah, hingga jika aku menginginkan garam sekalipun.”
Selain doa, Urwah pun begitu dekat dengan Alquran. Sudah menjadi kebiasaan putera Asma bintu Abu Bakar ini membaca seperempat Alquran di siang hari, kemudian membaca seperempatnya lagi di saat shalat malam. Kebiasaan berlama-lama dalam shalat malam ini terus dilakukan hingga operasi amputasi yang ia alami. Karena sejak itu, ia tidak lagi bisa berdiri seperti sebelumnya.
Walaupun ketika ia melakoni di antara kesibukannya di sebuah kebun, Urwah selalu dekat dengan Alquran. Setiap kali masuk kebun, ia selalu membaca surah Al-Kahfi ayat 39.
Allah berfirman,
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تُرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا
Dan Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu ‘Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah’ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap Aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (Al Kahfi: 39)
Seperti itulah di antara hikmah yang diajarkan Urwah bin Zubair. Sabar dan yakin terhadap ayat-ayat-Nya, merupakan kunci sukses seseorang meraih kepemimpinan di dalam agama ini. Sebuah kepemimpinan dalam mengarahkan umat kepada jalan yang lurus sesuai dengan rambu-rambu agama yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sahabat nabi Ukasyah ibnu muhsin
Madinah muram. Di setiap sudut rumah wajah-wajah tertunduk terpekur menatap tanah. Tak ada senyuman yang mengembang, atau senandung cinta yang dilantunkan para ibunda untuk membuai buah hatinya. Sebutir hari terus bergulir, namun semua tetap sama, kelabu.
Ujung waktu selalu saja hening, padahal biasanya kegembiraan mewarnai keseharian mereka. Padahal semangat selalu saja menjelma.
Namun kali ini, semuanya luruh. Tatapan-tatapan kosong, desah nafas berat yang terhembus bahkan titik-titik bening air mata keluar begitu mudah. Sahara menetaskan kesenyapan, lembah-lembah mengalunkan untaian keheningan. Kabar sakitnya manusia yang dicinta, itulah muasalnya.
Setelah peristiwa Haji Wada' kesehatan nabi Muhammad Saw memang menurun. Islam telah sempurna, tak akan ada lagi wahyu yang turun. Semula, kaum muslimin bergembira dengan hal ini. Hingga Abu Bakar mendesirkan angin kematian Rasulullah. Sahabat terdekat ini menyatakan bahwa kepergian kekasih Allah akan segera tiba dan saat itu adalah saat-saat perpisahan dengan purnama Madinah telah menjelang. Selanjutnya bayang-bayang akan kepergian sosok yang selalu dirindu sepanjang masa terus saja membayang, menjelma tirai penghalang dari banyak kegembiraan.
Dan masa pun berselang, masjid penuh sesak, kaum Muhajirin beserta Anshar. Semua berkumpul setelah Bilal memanggil mereka dengan suara adzan. Ada sosok cinta di sana, kekasih yang baru saja sembuh, yang membuat semua sahabat tak melewatkan kesempatan ini. Setelah mengimami shalat, nabi berdiri dengan anggun di atas mimbar. Suaranya basah, menyenandungkan puji dan kesyukuran kepada Allah yang Maha Pengasih. Senyap segera saja datang, mulut para sahabat tertutup rapat, semua menajamkan pendengaran menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi yang baru berada lagi. Semua menyiapkan hati, untuk disentuh serangkai hikmah. Selanjutnya Nabi bertanya.
"Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik".
Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal. Apapun yang dilakukan Nabi, selalu saja indah. Segala hal yang diperintahkannya, selalu membuihkan bening sari pati cinta. Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki. Apapun akan digadaikan untuk membela Al-Musthafa.
Melihat semua yang terdiam, nabi mengulangi lagi ucapannya yang kedua kalinya, dan kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja terlihat para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah 'Ukasyah Ibnu Muhsin.
"Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku" ucap 'Ukasyah.
Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh kekasih yang baru saja sembuh. Namun ia juga tidak mau mengecewakan Rasulullah. Segera setelah sampai, cambuk diserahkannya kepada Rasul mulia. Dengan cepat cambuk berpindah ke tangan 'Ukasyah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.
Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang menderas sejak dari tadi, dia lah Abu Bakar. Dan yang kedua, sosok pemberani, yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Nabi menyapanya sebagai Umar Ibn Khattab. Gemetar mereka berkata:
"Hai 'Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau ingin, kisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasul"
"Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian", Nabi memberi perintah secara tegas. Ke dua sahabat itu lemas, langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok 'Ukasyah dengan pandangan memohon. 'Ukasyah tidak bergeming.
Melihat Umar dan Abu Bakar duduk kembali, Ali bin Abi thalib tak tinggal diam. Berdirilah ia di depan 'Ukasyah dengan berani.
"Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan kisas Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku"
"Allah Swt sesungguhnya tahu kedudukan dan niat mu duhai Ali, duduklah kembali" Tukas kekasih yang baru saja sembuh itu.
"Hai 'Ukasyah, engkau tahu, aku ini kakak-beradik, kami adalah cucu Rasulullah, kami darah dagingnya, bukankah ketika engkau mencambuk kami, itu artinya mengkisas Rasul juga", kini yang tampil di depan Ukasyah adalah Hasan dan Husain. Tetapi sama seperti sebelumnya Rasul menegur mereka. "Duhai penyejuk mata, aku tahu kecintaan kalian kepadaku. Duduklah".
Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat. Tak terhitung yang menahan nafas. 'Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi 'Ukasyah mengambil kisas. "Wahai 'Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah Ragaku," Nabi selangkah maju mendekatinya.
"Ya Rasulullah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu". Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan pakaian gamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.
Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, 'Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu. 'Ukasyah menangis gembira, 'Ukasyah bertasbih memuji Allah, 'Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, "Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka".
Dengan tersenyum, Nabi berkata: "Ketahuilah duhai manusia, barang siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini". 'Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang lain berebut mencium 'Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali. "Duhai, 'Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga". Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.
Nama, tingkatan dan penghuni neraka
Neraka adalah seburuk-buruknya tempat kembali bagi manusia dan jin yang mengkufuri-Nya, mengingkari perintah-perintah-Nya, dan mendustakan para Nabi dan Rasul-Nya.
Tempat dimana Allah subhanahu wa ta'ala telah siapkan dengan kepedihan siksaan-Nya, dan dahsyatnya api nereka. Dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah memperingatkan kita semua dalam firman-Nya :
فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ
"Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala." (QS. Al-Lail Ayat 14)
Dalam Firman Allah Subhanahu wa ta'ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah Subhanahu wata'ala terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At Tahrim Ayat 6)
Pada dasarnya Neraka memiliki 7 pintu, setiap pintu ada bagian tertentu yang di peruntukkan bagi kaum laki-laki dan wanita.
Allah Ta'ala berfirman dalam surah Al-Hijr ayat 44 :
لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ
"Jahanam itu memiliki tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah di tetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka."
Neraka di jaga oleh 18 malaikat (Zabaniyah) yang bentuknya seperti Malaikat Malik, yang mengepalai para malaikat yang lainnya, yang berada di bawah perintah kekuasaannya, jumlah mereka ini banyak sekali, hanya Allah Subhanahu wa ta'ala yang tahu jumlah mereka.
Berikut Nama, Tingkatan Neraka beserta Penghuninya :
1. Neraka Hawiyah.
Neraka ini terletak paling bawah (dasar), merupakan neraka yang paling dahsyat sisksaannya.
Penghuninya adalah orang-orang munafik, orang kafir, termasuk juga keluarga Fir'aun.
Sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta'ala:
"Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah." (QS Al Qori'ah ayat 9)
"Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?" (QS Al Qori'ah ayat 10)
"(Yaitu) api yang sangat panas." (QS Al Qori'ah ayat 11)
2. Neraka Jahim.
Tingkat neraka ke-6, yaitu di atasnya neraka Hawiyah.
Di tempati oleh orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah.
Ada dalam Firman Allah subhanahu wa ta'ala:
"Dan di perlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat ",
(QS Asy-Syu'araa ayat 91)
3. Saqar.
Tingkat neraka ke-5, terletak di atasnya neraka Jahim.
Dihuni oleh orang-orang yang menyembah berhala.
Firman Allah subhanahu wa ta'ala:
" Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka) ? "
(QS Al-Muddatstsir ayat 42)
4. Neraka Ladza.
Tingkat neraka ke-4, terletak di atasnya neraka Saqar.
Di dalamnya di tempati Iblis laknatullah beserta orang-orang yang mengikutinya dan orang-orang yang terbujuk rayuannya. Kemudian orang-orang Majusi pun ikut serta menempati neraka Ladza ini. Mereka kekal bersama Iblis di dalamnya.
Firman Allah subhanahu wa ta'ala:
"Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak".
(QS Al-Ma'arij ayat 15)
5. Neraka Huthamah.
Tingkat neraka ke-3, terletak di atasnya neraka Ladza.
Penghuninya orang-orang Yahudi beserta para pengikutnya.
Firman Allah subhanahu wa ta'ala:
"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah." (QS Al-Humazah ayat 4)
"Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?"
(QS Al-Humazah ayat 5)
"(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,"
(QS Al-Humazah ayat 6)
6. Neraka Sa'ir.
Tingkat neraka ke-2, terletak di atasnya neraka Huthamah.
Di dalamnya di tempati oleh orang-orang Nashrani dan para pengikutnya.
Firman Allah subhanahu wa ta'ala:
“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.“
(QS Al Insyiqaq ayat 12)
7. Neraka Jahanam.
Tingkat neraka ke-1. Merupakan pintu neraka yang paling atas (pertama). Di dalamnya berisi umatmu (Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam) yang melakukan dosa-dosa besar dan tidak tobat sampai mereka meninggal dunia.
Firman Allah subhanahu wa ta'ala :
"Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah di ancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya."
(QS: Al-Hijr ayat 43).
Sedangkan tentang neraka Jahanam Ibnu Abbas radhiallahu anhu meriwayatkan : Pada hari kiamat neraka jahanam di datangkan, di sekeliling jahanam ada 70.000 barisan para malaikat. Setiap baris jumlahnya lebih banyak dari jumlah jin dan manusia. Mereka mendekat, memegang kendali Jahanam, juga memiliki 4 kaki, jarak antara setiap kaki sejauh perjalanan 1.000 tahun. Ia juga memiliki 30 kepala, setiap kepala terdapat 30.000 mulut. Setiap mulut memiliki 30.000 gigi geraham. Setiap gigi geraham besar seperti gunung uhud 1.000 kali. Setiap mulut terdapat 2 bibir, setiap bibir besarnya seperti seluasnya dunia. Di dalam bibirnya terdapat rantai dari besi. Setiap satu rantai terdapat 70.000 lingkaran, di pegang oleh para malaikat yang tidak terhitung jumlahnya.
Zakat Fitrah
Ada satu kewajiban umat islam yang tidak boleh ditinggalkan dalam bulan Ramadhan ini, yaitu membayar zakat fitrah. Berdasarkan tuntunan Allah dan Rasulullah SAW dalam Al-Quran dan Al-Hadist di bawah ini.
وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ* القران سورة البقرة ٤٣
Tegakkanlah shalat dan bayarlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.
[Al Quran surat Al Bakarah ayat 43]
8 – حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” * رواه البخاري كتب لإيمان
Rasulullah bersabda,”Agama Islam di bangun atas lima perkara, bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, dan menegakkan shalat, dan membayar zakat, dan haji ke Baitullah, dan puasa Ramadan”.
[Hadist Shohih Bukhari No. 8 Kitabul Iman]
Beberapa ketentuan tentang Zakat Fitrah
Wajib dibayar oleh setiap Muslim, laki-laki dan perempuan segala usia, bahkan bayi yang baru lahir menjelang shalat Ied, kaya atau miskin.
Zakat fitrah berupa bahan makanan pokok yang dimakan sehari-hari, beras, jagung, gandum dan lain sebagainya.
Volume zakat yang harus dibayar adalah 1 shok, setara dengan 2,7 kg (dua koma tujuh kilogram) beras.
Dibayarkan pada bulan Ramadhan sebelum shalat Ied sebagai penyempurna puasa.
Jamaah yang tidak mampu membayar zakat fitrah supaya dihutangi, dan diberi pembagian yang lebih dari hutangnya agar bisa membayar hutangnya dan bisa ada kelebihan untuk dimakan sendiri.
Jamaah membayarkan zakatnya pada amil yang dibentuk di daerah masing-masing.
1503 – حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ السَّكَنِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَهْضَمٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ نَافِعٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ» رواه البخاري فى كتب الزكاة
… Ibni Umar r.a. meriwayatkan: Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sho’ dari kurma atau satu sho’ dari sha’ir bagi budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan orang tua dari orang Islam dan Nabi memerintahkan agar zakat tersebut diserahkan sebelum manusia keluar melaksanakan shalat Ied.
[Hadist Bukhori No. 1503 Kitabu Zakat]
عَنِ بْنِ عَبّاسْ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صلى اللهُ علىه وسلم زَكَاتَ الْفِطْرَ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ الَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ مَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاةِ* رواه أبو داود كتاب الزكاة
… Dari Abas bercerita, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan jelek dan perkataan kotor dan makanan bagi orang miskin, barang siapa membayarnya sebelum shalat Ied maka itu zakat yang diterima, barang siapa membayarnya setelah shalat Ied maka itu merupakan shodakoh biasa.
[Hadist riwayat Abu Dawud Kitabu Zakat]
8 Golongan yang Berhak Menerima Zakat
Zakat Fitrah adalah salah satu ibadah madhoh dalam Islam, yang tata cara dan
ketentuannya telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulullah s.a.w, termasuk
orang-orang yang berhak menerimanya (mustaqiq). Sesuai dengan Firman Allah dalam
Surah At-Taubah ada 8 (delapan) golongan yang berhak menerima zakat, yaitu:
Fakir adalah orang yang penghasilannya hanya cukup untuk dimakan sekeluarga sehari-hari namun tidak bisa memenuhi kebutuhan lainnya.
Miskin adalah orang yang penghasilannya tidak cukup untuk makan sehari-hari atau bahkan tidak memiliki penghasilan.
Amil adalah orang-orang yang bertugas menghimpun zakat dan membagikannya.
Mualaf adalah orang yang baru masuk Islam. Namun karena kondisi ekonomi yang cukup biasanya seorang mualaf menolak menerima zakat.
Budak adalah orang yang mengabdi pada seseoang dan biasanya tidak mendapat imbalan kecuali hanya kebutuhan pokok yaitu makan dan pakaian. Budak hanya ada di negara-negara yang pernah menerapkan sistem perbudakan. Perbudakan di dunia modern saat ini dianggap pelanggaran hukum dan hak asasi manusia (HAM).
Ghorim adalah orang yang keberatan / tidak mampu membayar hutangnya. Hutang yang dimaksud adalah hutang karena untuk memenuhi kebutuhan urgen seperti makan dan pengobatan, bukan hutang bisnis atau hutang barang konsumtif.
Fii Sabilillah adalah lembaga-lembaga yang bertanggung jawab atas urusan agama dan digunakan untuk kelancaran peribadahan umat.
Ibnu Sabil adalah Musafir yang kehabisan bekal atau orang yang bepergian dan atau sedang dalam perjalanan dan tidak mempunyai uang saku atau bekal.
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ * القران سورة التوبة ٦٠
“Sesungguhnya zakat bagi orang fakir dan orang miskin dan ‘amil pengurus zakat dan orang mualaf hatinya dan budak dan ghorim (orang yang keberatan hutang) dan fii sabilillah (urusan agama) dan ibnu sabil (musafir) kewajiban dari Allah dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Menghukumi”.
[Al-Quran Surat At-Taubah 60]
Pesan palsu Nuzulul Quran
Beredar Pesan Palsu 'Nuzulul Qur'an' Yang Mengatasnamakan Nabi dengan menggunakan hadits hadits palsu seperti di bawah ini,
______________
"Ass... Mengingatkan Tepat jam 24.00 Wib malam nanti, akan datangnya Malam Nuzulul quran. Rasullullah Bersabda "Barang Siapa Yang Memberitahukan Berita Nuzululquran kepada Yang Lain, maka Haram Api Neraka Baginya".
Dan tolong baca sebentar saja kita berdzikir mengingat اَللّهُ ... bismillah "Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaaha ilallah, Allahu-Akbar, Laa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim”
Bila disebarkan, Anda akan membuat beribu-ribu manusia berzikir kepada Allah SWT آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Maaf... Jangan putus di Anda.
Gak sampai 1 menit kok.. اَللّهُ Maha Besar..."
______________
Saya selalu bertanya-tanya di dalam hati
Apakah orang yang membuat pesan diatas tidak takut kepada Allah?
Membuat hadits palsu atas nama Rasulullah?
Berdusta atas nama Rasulullah.
Netizen yang awam pun tanpa berpikir panjang langsung share, share dan share.
Dikirim secara massal melalui SMS, BBM, WhatApps, Instagram dan Facebook.
Hingga akhirnya menjadi viral.
Dan hal itu dianggap bagian dari ibadah.
Mereka pun meyakini bahwa itu sebagai sebuah kebenaran.
Karena datangnya dari Nabi.
Inna lillah wa inna ilaihi rojiun.
Kita tahu, Bahwa berdusta atas nama seseorang, walaupun bukan orang yang mulia, merupakan dosa dan aib bagi pelakunya.
Lalu bagaimana jika berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , yang perkataan dan perbuatannya adalah sumber ajaran Islam?
Sudah Pasti, berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam merupakan dosa besar yang mengakibatkan pelakunya akan masuk neraka. Dalam sebuah hadits shahih, Imam Bukhori meriwayatkan:
عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Dari al-Mughirah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”. (HR. Bukhori)
Dalam hadits lain, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menegaskan:
لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ
"Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atasku, maka silahkan dia masuk ke neraka." (HR. Bukhori dan Muslim)
مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
"Barangsiapa menceritakan sebuah hadits dariku, dia mengetahui bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari para pendusta." (HR. Muslim di dalam Muqaddimah)
Dalam hadits lainnya disebutkan pula,
يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى الْخِلاَلِ كُلِّهَا إِلاَّ الْخِيَانَةَ وَالْكَذِبَ
“Seorang mukmin memiliki tabiat yang baik kecuali khianat dan dusta.” (HR. Ahmad)
Imam Adz Dzahabi dalam kitab 'Al Kabair' (dosa-dosa besar) menjelaskan, “Berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk kekufuran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Tidak ragu lagi bahwa siapa saja yang sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal berarti ia melakukan dosa besar dan masuk dalam ranah kekufuran.”
Oleh karena itu, Berhati-hatilah dalam menyampaikan sebuah pesan yang ditulis hadits di dalamnya. Masyarakat harus diberikan kesadaran, Mereka harus dibiasakan untuk selalu kritis jika terkait dengan ajaran syariat. 'Ini diambil dari kitab apa?' 'Mana dalilnya?' 'Itu hadits statusnya apa?' dsb. Jangan cuma asal guru berkata maka perkataan guru itulah yang dianggap paling benar. Sekalipun ucapan itu muncul dari mulut seorang kyai ternama, ajengan, habib, ustadz dll, mereka semua itu manusia biasa, Mereka bukan dalil atau sumber ajaran Islam. Tak ada salahnya untuk bertanya pada guru kita, 'Ini hadits dari kitab apa?', 'Bagaimana riwayatnya?', 'Bagaimana status haditsnya?', 'Dari kitab apa dinukil?' dll. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang berdusta atas nama Nabi apalagi mendukungnya. Neraka taruhannya! Naudzubillah min dzalik, Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga semua dari segala keburukan, dan menuntun kita di dalam segala kebaikan.
Kisah Khalid bin walid
KISAH PANGLIMA PERANG YANG DI PECAT KARENA TAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN
Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.
Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya! beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus.
Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.
Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.
Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.
Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!"
Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.
Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.
Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?"
"Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.
"Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"
"Kamu tidak punya kesalahan."
"Kalu tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"
"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."
"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.
Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, Anda itu jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah Anda pimpin, dan tak pernah satu kalipun Anda kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjung Anda. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan Anda. Tapi, ingat Khalid, Anda juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong. Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini Anda saya pecat. Supaya Anda tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja Anda tak bisa berbuat apa-apa!"
Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang Ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar. Sambil menangis belaiu berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"
Bayangkan Sahabat…. jenderal mana yang berlaku mulia seperti itu? Mengucapkan terima kasih setelah dipecat. Padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah jenderal yang mampu berlaku mulia seperti itu saat ini?
Hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.
Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."
Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah."
Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.
Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya! beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus.
Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.
Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.
Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.
Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!"
Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.
Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.
Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?"
"Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.
"Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"
"Kamu tidak punya kesalahan."
"Kalu tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"
"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."
"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.
Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, Anda itu jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah Anda pimpin, dan tak pernah satu kalipun Anda kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjung Anda. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan Anda. Tapi, ingat Khalid, Anda juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong. Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini Anda saya pecat. Supaya Anda tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja Anda tak bisa berbuat apa-apa!"
Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang Ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar. Sambil menangis belaiu berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"
Bayangkan Sahabat…. jenderal mana yang berlaku mulia seperti itu? Mengucapkan terima kasih setelah dipecat. Padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah jenderal yang mampu berlaku mulia seperti itu saat ini?
Hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.
Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."
Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah."
Monyet & angin
Seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa.
Dia gak sadar sedang diintip oleh tiga angin besar.
Angin Topan, Tornado, & Bahorok.
Tiga angin itu rupanya pada ngomongin,
siapa yg bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.
Angin Topan bilang,
dia cuma perlu waktu 45 detik.
Angin Tornado gak mau kalah, 30 detik, katanya.
Angin Bahorok senyum ngeledek & bilang,15 detik jg jatuh tuh monyet.
Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju.
Angin TOPAN duluan,
… dia tiup sekencang-kencangnya, Wuuusss…
Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung pegang batang pohon kelapa, Dia pegang sekuat-kuatnya. Beberapa menit lewat, gak jatuh-jatuh si monyet. Angin Topan pun nyerah.
Giliran Angin TORNADO.
Wuuusss… Wuuusss…
Dia tiup sekencang-kencangnya. Gak jatuh jg tuh monyet.
Angin Tornado jg nyerah.
Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kencang lagi dia tiup.
Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kencang pegangannya.
Gak jatuh-jatuh.
Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin,
si monyet memang jagoan. Tangguh.
Daya tahannya luar biasa.
Gak lama, datang angin SEPOI-SEPOI..
Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Keinginan itu diketawain sama tiga angin lainnya. Yg gede aja gak bisa, apalagi yg kecil.
Gak banyak omong, angin SEPOI-SEPOI langsung meniup ubun-ubun si monyet. Psssss…
Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Gak lama ketiduran dia terus lepas lah pegangannya
Alhasil, jatuh deh tuh si monyet.
*PESAN MORAL :*
Boleh jadi ketika kita Diuji dg KESUSAHAN…
Dicoba dg PENDERITAAN…
Didera MALAPETAKA… Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya…👍
Tapi jika kita diuji dg KENIKMATAN… KESENANGAN… KELIMPAHAN… KEKAYAAN... KEKUASAAN...
Disinilah ” KEJATUHAN ” itu terjadi.
Jangan sampai kita terlena…terbuai..
*Tetap ”Rendah Hati”, “Mawas Diri”, “Sederhana”, "Berbuat Amal" karena bukan KRITIKAN yg membuat anda "JATUH" tapi Sanjungan & Pujian.*
Al Qur'an dan Al Hadits
"ILMU AL QURAN DAN AL HADITS"
1.WAJIBNYA MENCARI ILMU AL QURAN-AL HADITS
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّ اللهَ يَبْغَضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فِى اْلأَسْوَاقِ جِيْفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ, عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِاْلآخِرَةِ رواه البيهقى
Dari Abu Huroiroh berkata : Bersabda Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : "Sesungguhnya Alloh murka pada tiap-tiap orang yang kasar, sombong, lagi banyak ramainya di dalam pasar. (Mereka) yang seperti bangkai di malam hari (tidak pernah sholat malam dan memperbanyak tidur) dan seperti himar di siang hari (ramai2 di siang hari). Pintar masalah dunia dan bodoh masalah akhirot (Ilmu Quran Hadits)" (HR Baihaqi)
عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ ٱللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُولُ يَاأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّمَا ٱلْعِلْمُ بٱِلتَّعَلُّمِ وَٱلْفِقْهُ بِٱلتَّفَقُّهِ وَمَنْ يُرِدِ ٱللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي ٱلدِّينِ وَإِنَّمَا يَخْسَى ٱللهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَاءُ رواه الطبراني
Dari Mu'awiyah berkata : "Aku mendengar Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam bersabda : "Wahai manusia ! Sesungguhnya (untuk mendapatkan) ilmu adalah dengan belajar, dan (untuk mendapatkan) kepahaman adalah dengan berusaha untuk paham. Dan barangsiapa yang Alloh menghendaki baik kepadanya, maka Alloh akan menjadikannya paham dalam masalah agama. Dan sesungguhnya yang bisa takut kepada Alloh, dari (semua golongan) hamba-Nya adalah para ulama' !" (HR Thobroni)
ٱلْعِلْمُ حَيَاةُ ٱلإِسْلاَمِ وَعِمَادُ ٱلإِيْمَانِ وَمَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَتَمَّ ٱللهُ أَجْرَهُ وَمَنْ تَعَلَّمَ فَعَمِلَ عَلَّمَهُ ٱللهُ مَا لَمْ يَعْلَم رواه أبو الشيخ
"Ilmu adalah kehidupannya Islam dan tiangnya keimanan. Dan barangsiapa mengajarkan ilmu, maka Alloh akan menyempurnakan pahalanya, dan barangsiapa yang belajar, lantas mengamalkan(nya), maka Alloh akan mengajarkan kepadanya apa-apa yang tidak ia ketahui" (HR Abu Syaikh)
2.KEUTAMAAN MENCARI ILMU
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ تَعَالَى يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ
وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ
رواه ابو داود كتاب الصلاة
Dari Abu Huroiroh : Dari Nabi Shollallohu 'alaihi wa Sallam bersabda : "Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam rumah Alloh dari beberapa rumah Alloh (Masjid), dimana mereka membaca dan saling menderes Kitab Alloh (Al Quran), kecuali turun atas mereka ketenangan, menutupi atas mereka rohmat, mengelilingi atas mereka malaikat dan menyebutlah Alloh tentang mereka dikalangan orang-orang di sisiNya" (HR Abu Dawud)
قَالَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اِذَا جَلَسَ الْمُتَعَلِّمُ بَيْنَ يَدَيِ الْعَالِِمِ فَتَحَ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ سَبْعِيْنَ بَابًا مِنَ الرَّحْمَةِ, وَلاَ يَقُوْمُ مِنْ عِنْدِهِ اِلاَّ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ اُمُّهُ, وَاَعْطَاهُ اللهُ بِكُلِّ حَرْفٍ ثَوَابَ سِتِّيْنَ شَهِيْدًا, وَكَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ حَدِيْثٍ عِبَادَةَ سَبْعِيْنَ سَنَةً, وَ بَنَى اللهُ لَهُ بِكُلِّ وَرَقَةِ مَدِيْنَةٍ كُلِّ مَدِيْنَةٍ مَثَلَ الدُّنْيَا عَشْرَ مَرَّاةٍ
رواه الديلمى عن جابر بن عبد الله
Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam besabda : "Ketika murid duduk dihadapan gurunya maka Alloh Ta'ala membuka baginya 70 pintu rohmat dan tidaklah sang murid berdiri dari tempat duduknya, melainkan seperti halnya ketika ia dilahirkan (bersih dari dosa). Alloh memberi untuk tiap-tiap huruf (dalam Al Quran yang dipelajari), pahala 60 syuhada', dan Alloh menulis baginya untuk tiap hadits (yang dipelajari), pahala ibadah selama 70 tahun dan Alloh membangun baginya untuk tiap mata uang yang ia keluarkan (untuk mencari ilmu), 10x dunia" (HR Ad Dailamiy dari Jabir bin Abdillah
)عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ لأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ أَيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ وَلأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ رواه ابن ماجه 219
Dari Abu Dzarr berkata : Bersabda kepadaku Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Wahai Abu Dzarr, niscaya jika engkau pagi-pagian, lantas engkau belajar satu ayat dari Kitab Alloh (Al Quran), itu lebih bagimu dari jika engkau sholat sunnah 100 rokaat. Dan niscaya jika engkau pagi-pagian, lantas engkau belajar satu bab dari Ilmu (Al Hadits), baik (ilmu itu) diamalkan atau tidak diamalkan, itu lebih baik bagimu daripada jika engkau sholat 1000 rokaat (HR Ibnu Majah 219)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ رواه الترمذي 2785
Dari Anas bin Malik berkata : Bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Barangsiapa yang keluar didalam mencari ilmu (Al Quran-Al Hadits), maka dia didalam sabilllah hingga dia kembali (pulang) (HR Tirmidzi 2785)
عَنِ الْحَسَنِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ جَاءَهُ الْمَوْتُ وَهُوَ يَطْلُبُ الْعِلْمَ لِيُحْيِيَ بِهِ اْلإِسْلاَمَ فَبَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّبِيِّينَ دَرَجَةٌ وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ
رواه الدارمي 358
Dari Hasan berkata : Bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Barangsiapa yang telah datang kepadanya kematian, dan dia sedang mencari ilmu (Al Quran-Al Hadits), (dengan tujuan) untuk menghidup-hidupkan Islam dengan ilmu tersebut, maka diantara dia dan para Nabi adalah satu derajat di surga (HR Darimi 358)
3.KEUTAMAAN MENGAJARKAN ILMU
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
رواه مسلم
Dari Abu Huroiroh : Sesungguhnya Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam bersabda : "Ketika seorang manusia meninggal dunia, putuslah amalnya kecuali pada 3 perkara, yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anaknya yang sholih yang mendoakan kepadanya !". (HR Muslim)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ أَوْ مُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لإِبْنِ السَّبِيلِ بنَاَهُ أَوْ نَهَرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
رواه ابن ماجه 242
Dari Abu Huroiroh berkata : Bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Sesungguhnya sebagian dari apa-apa yang menyusul kepada orang beriman, dari sebagian amalan dan kebaikan-kebaikannya, setelah kematiannya adalah ilmu yang dia ajarkan dan dia sebarkan, anak-anak sholih yang dia tinggalkan, Mushaf (Al Quran) yang dia waritskan, masjid yang dia bangun, rumah untuk Ibnu Sabil yang dia bangun, sungai yang dia alirkan (untuk kepentingan masyarakat) dan shodaqoh yang dia keluarkan semasa sehatnya dan semasa hidupnya. (Amalan-amalan itu) akan menyusul kepadanya setelah kematiannya !" (HR Ibnu Majah 242)
4.KEUTAMAAN AHLI ILMU
قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُو الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ سورة المجادلة 11
Alloh akan mengangkat orang Iman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat dan Alloh Maha Waspada terhadap apa-apa yang kalian kerjakan" (QS. Al Mujadalah 11)
أَنَّ لُقْمَانَ الْحَكِيْمَ أَوْصَى ابْنَهُ فَقَالَ يَا بُنَيَّ جَالِسِ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ فَإِنَّ اللهَ يُحْيِي الْقُلُوبَ بِنُوْرِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِى اللهُ الأَرْضَ الْمَيْتَةَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ رواه مالك في الموطأ 1889
"Sesungguhnya Lukman Al Hakim wasiat kepada anaknya : Wahai anakku menemanilah duduk para ulama' dan menempelkanlah lututmu pada mereka, sebab sesungguhnya Alloh menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Alloh menghidupkan bumi yang mati dengan derasnya air hujan" (HR Malik dalam kitab Al Muwattho')
عَنْ أَبِي حَفْصٍ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُوْلُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِي اْلأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِي السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الْهُدَى رواه أحمد
Dari Abu Hafsh yang bercerita kepada muridnya, bahwa sesungguhnya dia mendengar Anas bin Malik berkata : "Bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Sesungguhnya gambaran ulama' di bumi sebagaimana gambaran bintang di langit, yang dijadikan alat petunjuk didalam gelapnya daratan dan lautan. Maka ketika bintang telah terbenam, hampir-hampir hilanglah alat petunjuk itu !" (HR Ahmad)
أَيُّمَا نَاشِئٍ نَشَأَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَالْعِبَادَةِ حَتَّى يَكْبُرَ أَعْطَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوَابَ اثْنَيْنِ وَسَبْعِيْنَ صِدِّيْقًا
رواه الطبراني فى الكبير
"Siapapun pemuda yang tumbuh dalam mencari ilmu dan ibadah hingga masa tuanya, maka Alloh akan memberinya di hari kiamat pahalanya 72 orang shiddiq" (HR Thobroni)
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيْهِ أُلْبِسَ وَالِدَهُ تَاجًا بَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِيْ بُيُوْتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِبْكُمْ فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا
رواه ابو دود عن معاذ الجهني
"Barangsiapa yang membaca Al Quran dan mengamalkan apa-apa yang terkandung didalamnya, maka akan dipakaikan kepada kedua orangtuanya sebuah mahkota di hari kiamat. Sinar mahkota tersebut lebih bagus dari sinar matahari (yang menerangi) rumah-rumah dunia. Maka seandainya, matahari itu ada di kalangan kalian (kalian ketahui terangnya), maka bagaimana persangkaan kalian terhadap (ganjaran) orang yang mengamalkan (dan membaca Quran) ini" (HR Abu Dawud dari Mu'adz al Juhanniy)
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ ال;ْبَاهِلِيِّ قَالَ ذُكِرَ لِرَسُولِ; اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَجُلاَنِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَاْلأَخَرُ عَالِمٌ, فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَي أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
رواه الترمذي 2825
Dari Abu Umamah Al Bahiliy berkata : Diceritakan kepada Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam dua orang laki-laki, salah satunya adalah ahli ibadah, dan yang lain adalah ahli ilmu. Maka bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa SallamI : "Keutamaan seorang ahli ilmu atas ahli ibadah, ibarat keutamaanku mengalahkan (keutamaan) orang-orang hinanya kalian !". Kemudian bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Sesungguhnya Alloh, malaikat-malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi, sampai semut yang berada di liangnya, sampai ikan-ikan, niscaya mendoakan rohmat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia" (HR Tirmidzi 2825)
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ سَاعَةٌ مِنْ عَالِمٍ يَبْكِي عَلَى فِرَاشِهِ وَيِنْظُرُ فِي عَمَلِهِ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ الْعَابِدِ سَبْعِينَ عَامًا
رواه الديلمي 3504
Dari jabir berkata : Bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Sesaat dari seorang ahli ilmu, yang menangis diatas tempat tidurnya dan melihat didalam amalannya (instropeksi—ket), adalah lebih baik daripada ibadahnya seorang ahli ibadah selama 70 tahun!" (HR Dailami 3504)
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا اجْتَمَعَ الْعَالِمُ وَالْعَابِدُ عَلَى الصِّرَاطِ قِيلَ لِلْعَابِدِ أُدْخُلِ الْجَنَّةَ وَتَنَعَّمَ بِعِبَادَتِكَ وَقِيلَ لِلْعَالِمِ قِفْ هُنَا فَاشْفَعْ لِمَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ لاَ تَشْفَعُ لإَحَدٍ إِلاَّ شُفِّعْتَ, فَقَامَ مَقَامَ اْلأَنْبِيَاءِ
رواه الديلمي 1293
Dari Ibnu Abbas berkata : Bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Ketika seorang ahli ilmu dan ahli ibadah berkumpul diatas jembatan (antara surga dan neraka), dikatakan kepada ahli ibadah : "Masuklah engkau ke surga, dan rasakanlah kenikmatan (surga) sebab ibadahmu !". Dan dikatakan kepada ahli ilmu : "Berhentilah disana (di jembatan), maka berilah syafaat kepada orang yang engkau sukai, maka sesungguhnya engkau tidak memberi syafaat kepada seseorang, melainkan diterima syafaatmu !". Maka berdirilah ahli ilmu terseut pada kedudukannya para Nabi !" (HR Dailami 1293)
عَنْ عُثْمَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَوَّلُ مَنْ يَشْفَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ الشُّهَدَاءُ
رواه الخرائطي
Dari Utsman berkata : Bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam bersabda : "Lebih dahulunya orang yang memberi syafaat pada hari Qiamat adalah para Nabi, kemudian para ulama', kemudian para syuhada' !" (HR Khoroithiy)
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ سَتَكُوْنُ فِتَنٌ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا إِلاَّ مَنْ أَحْيَاهُ اللهُ بِالْعِلْمِ
رواه إبن ماجة
Dari Abu Umamah berkata : Bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Akan ada masa fitnah dimana seorang laki-laki di pagi hari dalam keadaan iman, tapi kemudian menjadi kafir di sore hari, kecuali (yang tidak menjadi kafir) orang-orang yang Alloh hidupkan dengan ilmu" (HR Ibnu Majah)
إِذَا تَبَحَّرَ ٱلرَّجُلُ فِي ٱلْحَدِيثِ كَانَ ٱلنَّاسُ عِنْدَهُ كَٱلْبَقَرِ (إيني أوجفاب أهل حديث)
Ketika seorang laki-laki telah mahir dalam hal hadits, maka manusia disisinya ibarat sapi (Ucapan ahli hadits)
5.ILMU DI ZAMAN AKHIR
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِى بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ يِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ
عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا رواه البخارى
Dari Abdillah bin Amr bin Al 'Ash berkata : Aku mendengar Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam bersabda :"Sesungguhnya Alloh tidak menggenggam (menghilangkan) ilmu dengan sekali mencabut sehingga Alloh benar-benar mencabutnya dari hamba. Akan tetapi (Alloh menghilangkan ilmu) dengan mewafatkan para ulama'. Sehingga ketika tidak tersisa seorangpun ulama', para manusia mengangkat pemimpin yang bodoh, yang ketika mereka ditanya (tentang suatu hukum) mereka menghukumi dengan tanpa berdasar ilmu (Quran Hadits), maka mereka sesat dan menyesatkan" (HR Bukhori)
عَنْ اَبِى اُمَامَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ اَنْ يَذْهَبَ قَالُوا وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللهِ وَفِيْنَا كِتَابُ اللهِ, قَالَ فَغَضِبَ لاَ يُغْضِبُهُ اللهُ ثُمَّ قَالَ ثَكِلَتْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ اَوَلَمْ تَكُنِ التَّوْرَاةُ وَاْلإِنْجِيْلُ فِى بَنِى إِسْرَاﺋِﻴْﻞَ, فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمْ ﺷَﻴْﺌًﺎ, إِنَّ ذِهَابَ الْعِلْمَ اَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ, إِنَّ ذِهَابَ الْعِلْمَ اَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ
رواه الدارمى 245
"Dari Abu Umamah dari Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam bersabda ; "Mencarilah ilmu sebelum ilmu itu hilang!, Sahabat bertanya : "Bagaimana ilmu itu bisa hilang wahai Nabiyulloh, padahal ada Kitab Alloh di kalangan kami ?". Abu Umamah berkata : Maka Nabi marah yang tidak pernah Alloh membuat Nabi marah seperti itu, kemudian Nabi bersabda : "Kalian kehilangan ibu kalian ! Bukankah telah ada Taurot dan Injil di kalangan Bani Isroil, tapi keduanya tidak mencukupi bagi mereka (sehingga akhirnya keaslian kedua kitab itu hilang). Sesungguhnya hilangnya Ilmu adalah bila telah hilang (wafat) si pembawa ilmu, 2X" (HR Ad Darimi 245).
6.ANCAMAN BAGI AHLI ILMU
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ
سورة البقرة 44
Mengapa engkau perintahkan manusia (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal engkau membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS Al Baqoroh 44)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لاَ تَفْعَلُونَ
سورة الصف 2-3
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang kalian (sendiri) tidak kerjakan ? Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan (QS As Shof 2-3)
عَنْ اَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الزَّابَانِيَةُ اِلَى فَسِقَةِ حَمَلَةِ الْقُرْاٰنِ اَسْرَعُ مِنْهُمْ اِلَى عَبَدَةِ اْلاَوْثَانِ فَيَقُوْلُوْنَ يُبْدَأُ بِنَا قَبْلَ عَبَدَةِ اْلاَوْثَانِ فَيُقَالُ لَهُمْ لَيْسَ مَنْ يَعْلَمُ كَمَنْ لاَ يَعْلَمُ
رواه الطبرانى
"Dari Anas berkata : bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Malaikat Zabaniyah lebih cepat (lebih dahulu menyeret ke neraka) bagi orang fasiq dari kalangan pembawa Quran daripada penyembah berhala, maka para pembawa Quran berkata : Mengapa kami lebih dahulu (disiksa) daripada para penyembah berhala ?. Maka dikatakan bagi mereka : Tidaklah sama antara orang yang tahu (berilmu) dan orang yang tidak tahu (tidak berilmu)" (HR At Thobroni)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ
رواه الترمذي
Dari Abu Huroiroh berkata : Bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang dia ajarkan kepadanya, kemudian dia menyimpannya, maka dia diikat di hari Qiamat dengan tali dari api " (HR Tirmidzi)
7.ADAB BAGI AHLI ILMU
وَقَالَ عَلِيٌّ حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُولُهُ رواه البخاري
Berkata Ali : "Berceritalah kepada manusia (tentang ilmu) sesuai dengan apa yang mereka ketahui. (sesuai tingkat pemahaman mereka—ket). Apakah kalian senang jika Alloh dan Rosul-Nya didustakan (hanya karena kalian menerangkan sesuatu diluar daya pemahaman mereka) ? (Riwayat Bukhori)
8.ANCAMAN MENCARI ILMU TIDAK KARENA ALLOH
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
رواه ابن ماجه 258
Dari Ibnu Umar berkata : Bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Barangsiapa mencari ilmu karena selain Alloh atau dia menghendaki dengan ilmu tersebut pada selain Alloh, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di Neraka !" (HR Ibnu Majah 258)
عَنْ¬ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيْحَهَا
رواه ابن ماجه 252
Dari Abu Huroiroh berkata : Bersabda Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam : "Barangsiapa yagn belajar ilmu (Al Quran—Al Hadits), dari apa-apa (yang seharusnya) dicari wajah Alloh dengan ilmu tersebut, (tetapi) dia tidak mempelajarinya kecuali agar dia dapatkan kesenangan dunia dengan ilmu tersebut, maka tidak akan dia jumpai baunya surga di hari Qiamat, yakni (Nabi menghendaki pada) bau wanginya surga" (HR Ibnu Majah
Semoga manfaat dan barokah.
Harta ribawi dan qoidah jual belinya
*Tukar menukar atau jual beli emas dan perak harus kontan (tdk boleh kredit) dan harus sama beratnya*
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ
dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kamu jual beli emas dengan emas kecuali sebanding, dan jangan kalian lebihkan sebagian atas sebagian yang lain. Janganlah jual beli perak dengan perak kecuali sebanding, dan janganlah kalian lebihkan sebagian atas sebagian yang lain. Dan janganlah kalian menjual sesuatu dengan tunai sementara yang lain dengan tempo." (HR Muslim)
*Tukar menukar bahan makanan pokok harus sama beratnya (Sekalipun beda kualitas)*
*Solusinya: dijual dulu bahan makanan pokok yg kualitas rendah, lalu uang hasil penjualan digunakan utk membeli yg lebih bagus.*
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَهُ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا فَقَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا لَنَأْخُذُ الصَّاعَ مِنْ هَذَا بِالصَّاعَيْنِ وَالصَّاعَيْنِ بِالثَّلَاثَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلْ بِعْ الْجَمْعَ بِالدَّرَاهِمِ ثُمَّ ابْتَعْ بِالدَّرَاهِمِ جَنِيبًا
dari Abu Sa'id Al Khudri dan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengangkat pegawai seseorang di Khaibar, suatu saat dia datang dengan membawa kurma Janib (sejenis kurma yang bermutu tinggi), maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Apakah semua jenis kurma Khaibar seperti ini?" dia menjawab, "Tidak. Demi Allah wahai Rasulullah, kami di sana terbiasa menukar satu sha' kurma seperti ini dengan dua sha', atau dua sha' ditukar dengan tiga sha'." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jangan lakukan lagi perbuatan seperti ini, juallah semuanya terlebih dahulu dengan dirham, kemudian dengan dirham itu kamu gunakan untuk membeli kurma yang lebih bagus."* (HR Muslim)
Jilbab dan akhlak
Dalam pandangan masyarakat kita, bahwa wanita berjilbab, adalah wanita yang identik memiliki tatakrama baik, wanita yang santun, yang kalem, rajin ibadah, rajin shodakoh, rajin mengaji, rajin menabung dan berbagai predikat baik lainnya. Boleh jadi sebagian besar wanita berkerudung seperti itu.
Sebaliknya, muslimah yang tidak berkerudung, meski akhlaknya baik, tentu saja dipandang tidak sebaik muslimah berkerudung, hal yang lumrah dan spontanitas terlintas dalam benak kita.
Akibatnya, jika ada kebetulan wanita berjilbab melakukan sesuatu yang kontradiktif dengan jilbabnya itu, seketika penilaian masyarakat menjadi njomplang sangat negatif sekali. Dan tentu saja jilbabnya seketika menjadi objek atas tindakan yang tak sesuai dengan moral pemakai jilbab. “Jilbaban tapi akhlaknya kok gitu”.
Akhirnya, sebagian muslimah yang tidak berjilbab pun, memilih tetap bertahan pada pilihannya, dengan pikiran sangat sederhana sekali, daripada aku tidak bisa menjaga sikapku saat mengenakan jilbab, lebih baik aku tidak mengenakannya sekalian, biarlah aku menjilbabi hatiku terlebih dahulu.
Menjilbabi hati, kalimat yang sangat populer di tengah masyarakat kita.
Sebenarnya, fenomena di atas (pengidentikan jilbab dengan keshalihahan) adalah kesalahan pemahaman umum (salah kaprah) dalam masyarakat kita soal hubungan jilbab dengan akhlak.
Memang wanita yang shalihah, yang menjalankan agamanya dengan baik, tentu saja mengaplikasikan segenap perintah agamanya terhadap dirinya semampu dia, salah satunya adalah berjilbab ini.
Tetapi saya berani mengatakan, bahwa sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali antara jilbab dan berakhlak baik. Lhoh kok bisa?
Berjilbab, adalah murni perintah agama yang berhubungan dengan pribadi muslimah itu. Yakni, jilbab adalah kewajiban baginya dengan tanpa melihat apakah moralnya baik ataupun buruk. Jadi selama dia muslimah, maka berjilbab adalah kewajiban.
Sebagaimana Firman Alloh dalam Q.S. An-Nur 31
… وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا … الأية * سورة النور 31
Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya (yaitu wajah dan telapak tangan)
Tentu saja, jika ada muslimah tidak berjilbab, itu pilihan dia, tetapi tentu ada konsekwensinya, apabila seseorang tidak menjalankan perintah Allah Rosul maka resikonya adalah sanksi yang berupa siksa.
وَمَن يَعْصِ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَاراً..... الاية سوراة النسا14
Dan barang siapa yang menentang Allah dan Rasulnya serta melanggar peraturan-peraturan, maka Allah akan memasukkan kedalam neraka
Dan sebaliknya, jika dia mengenakan jilbab, maka pahala akan terus mengalir padanya selama jilbab itu bertengger di kepalanya, sebagai bentuk balasan atas kethoatan menjalankan perintah Allah Rosul.
....وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ..... الاية سوراة النسا13
Dan barang siapa taat Allah dan utusannya maka Allah akan memasukkan kedalam surga
Jadi, kesimpulannya, jilbab adalah wajib dikenakan tiap muslimah yang telah memasuki usia baligh, tanpa melihat apakah moralnya baik atau jelek.
Dan akhlak adalah sesuatu yang dituntut dalam kehidupan seorang muslim dan muslimah.
مَكَارِمُ اْلأَخْلاَقِ مِنْ أَعْماَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ * رواه الطبرانى عن أنس
Budi pekerti (akhlak) yang luhur termasuk amalan ahli surga.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
(أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً)
“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (Shahih. HR. Abu Dawud 4682 dan At-Tirmidzi 1162).
Semoga manfaat dan barokah.
Subscribe to:
Posts (Atom)

