Doa setelah adzan

Doa Setelah Adzan

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ
(Alloohumma Robba haadzihid da’watit taammah, washsholaatil qoo’imah, aati Muhammadanil wasiilata wal fadhiilah, wab’atshu maqoomam mahmuudanil ladzii wa’adtah)
Artinya :
Ya Allah, Rabb Pemilik panggilan yang sempurna dan shalat yang didirikan, Karuniakanlah kepada Muhammad wasilah, keutamaan, kemuliaan dan derajat yang tinggi. Dan bangkitkan beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan.

Keterangan :
Doa ini diambil dari hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim. Doa ini diucapkan setelah mendengar adzan, baik sebagai muadzin maupun orang yang mendengar adzan.

Keutamaan:
Keutamaan doa setelah adzan tersebut adalah, orang yang membacanya akan mendapatkan syafa’at Nabi pada hari kiamat kelak. Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa setelah mendengar adzan berdoa “Alloohumma Robba haadzihid da’watit taammah, washsholaatil qoo’imah, aati Muhammadanil wasiilata wal fadhiilah, wab’atshu maqoomam mahmuudanil ladzii wa’adtsah” ia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari)

Menjawab bacaan ayat terakhir surat At-Tin


Oleh: Ust. Muhammad Muafa, M.Pd Pengasuh Pondok Pesantren IRTAQI, Malang, Jawa Timur

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Diakhir surat Al-Qur'an At-Tin itu ada ayat pertanyaan, bila ada seseorang membacanya kita disunnahkan untuk menjawabnya.
1. Apakah yang demikian itu sunnah? mohon penjelasannya.
2. Bagaimana lafadz jawaban dari surat At-Tin tersebut?
3. Dan mohon disebutkan surat Al-Qur'an apa saja yang harus dijawab seperti surat At-Tin ini, dan bagaiman lafadznya masing-masing?

Jazakallahu Khairon. Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..

Jawaban:

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Ketika membaca surat At-Tin dan sampai pada ayat terakhir yang berbunyi;

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

Disunnahkan untuk menyahut dengan bacaan;

بَلَى وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ

Hukum sunnah ini berlaku baik surat tersebut dibaca di luar shalat maupun saat melakukan shalat. Dalil kesunnahan menyahut dengan bacaan tersebut adalah hadis berikut;

سنن الترمذى - مكنز (12/ 219، بترقيم الشاملة آليا)حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ سَمِعْتُ رَجُلاً بَدَوِيًّا أَعْرَابِيًّا يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَرْوِيهِ يَقُولُ مَنْ قَرَأَ (وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ) فَقَرَأَ (أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ) فَلْيَقُلْ بَلَى وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Isma'il bin Umayyah, ia berkata; saya mendengar seorang badui berkata; saya mendengar Abu Hurairah meriwayatkan hadits, ia berkata; barang siapa yang membaca surat At Tiin kemudian membaca: alaisallahu biahkamil hakimin "Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?" (QS. Attin 8), hendaknya ia mengatakan; balaa wa ana 'alaa dzalika minasy syaahidiin (benar, dan aku termasuk orang-orang yang bersaksi atas hal itu). (H.R. At-Tirmidzi)

Riwayat Abu Dawud berbunyi;

سنن أبى داود - مكنز (3/ 189، بترقيم الشاملة آليا)حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الزُّهْرِىُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنِى إِسْمَاعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ سَمِعْتُ أَعْرَابِيًّا يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ مِنْكُمْ (وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ) فَانْتَهَى إِلَى آخِرِهَا (أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ) فَلْيَقُلْ بَلَى وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ وَمَنْ قَرَأَ (لاَ أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ) فَانْتَهَى إِلَى ( أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِىَ الْمَوْتَى) فَلْيَقُلْ بَلَى وَمَنْ قَرَأَ (وَالْمُرْسَلاَتِ) فَبَلَغَ ( فَبِأَىِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ) فَلْيَقُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ ». قَالَ إِسْمَاعِيلُ ذَهَبْتُ أُعِيدُ عَلَى الرَّجُلِ الأَعْرَابِىِّ وَأَنْظُرُ لَعَلَّهُ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِى أَتَظُنُّ أَنِّى لَمْ أَحْفَظْهُ لَقَدْ حَجَجْتُ سِتِّينَ حَجَّةً مَا مِنْهَا حَجَّةٌ إِلاَّ وَأَنَا أَعْرِفُ الْبَعِيرَ الَّذِى حَجَجْتُ عَلَيْهِ.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Az Zuhri telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepadaku Isma'il bin Umayyah saya mendengar seorang arab badui berkata; saya mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa di antara kalian membaca; "WAT TIIN WAZ ZAITUN (Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun), " sampai akhir ayat "ALAISALLAHU BI AHKAMIL HAAKIMIIN (Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?) " hendaknya ia mengucapkan; "Benar, dan kami menjadi saksi untuk itu." Dan barangsiapa membaca; "LAA UQSIMU BIYAUMIL QIYAAMAH (Aku bersumpah demi hari kiamat), hingga akhir ayat "ALAISA DZAALIKA BI QAADIRIN `ALAA AIYYUHYIYAL MAUTA (Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?), maka hendaklah ia mengatakan; BALAA "benar." Dan barangsiapa membaca; WAL MURSALAATI `URFA (Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan) sampai dengan; FA BIAIYYI HADITSIN BA`DAHU YU`MINUN (Maka kepada perkataan apakah sesudah Al Quraan ini mereka akan beriman?), maka hendaknya ia mengatakan; AAMANTU BILLAH "aku beriman kepada Allah." Isma'il berkata: aku pergi untuk melihat apakah dia menjaganya, Dan dia adalah seorang badui, dia berkata; "wahai saudaraku, apakah kamu mengira bahwa aku tidak menjaganya, sungguh aku telah berhaji sebanyak enam puluh kali, tidaklah ada pada satu tahun pun kecuali aku mengetahui unta yang dulu aku pakai untuk berhaji." (H.R. Abu Dawud)

Adapaun sebagian pendapat kaum muslimin yang menolak hadis ini dan menganggapnya hadis Dhoif dengan beralasan Majhulnya (tidak diketahuinya) nama perawi sebelum Abu Hurairah, dan hanya disebut A'roby (Arab badui), maka Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-'Asqolani telah menyanggahnya dalam kitab beliau "Nata-ij Al-Afkar".  Menurut beliau jalur periwayatan hadis ini bukan hanya dari Abu Hurairah saja, tetapi juga ada jalur yang berasal dari Al-Baro' bin 'Azib, Jabir dan Ibnu 'Abbas. Ada pula jalur Mursal dari sebagian Tabi'in dan riwayat Mauquf dari sebagian shahabat. Dengan kenyataan ini, yakni berbilangnya sejumlah jalur yang bisa menjadi penguat maka penilaian Dhoif bukanlah yang dijadikan sandaran. Maknanya, Ibnu Hajar memandang hadis tersebut masih terkategori riwayat yang bisa diterima, yakni Hadis Hasan. Ibnu Jarir juga meriwayatkan hadis tersebut secara Mauquf pada Ibnu Abbas dengan Sanad Muttashil (bersambung)  yang terdiri dari perawi-perawi Tsiqot.
Adapun riwayat yang melarang berbicara dengan ucapan manusia saat Shalat seperti riwayat-riwayat berikut ini;

صحيح البخاري (4/ 393)عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَكُنَّا نُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَرُدُّ عَلَيْنَا فَلَمَّا رَجَعْنَا مِنْ عِنْدِ النَّجَاشِيِّ سَلَّمْنَا عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْنَا وَقَالَ إِنَّ فِي الصَّلَاةِ شُغْلًا

Dari 'Abdullah radliallahu 'anhu berkata: "Kami pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika Beliau sedang shalat dan Beliau membalas salam kami. Ketika kami kembali dari (negeri) An-Najasyi kami memberi salam kembali kepada Beliau namun Beliau tidak membalas salam kami. Kemudian Beliau berkata: "Sesungguhnya dalam shalat ada kesibukan". (H.R. Bukhari)

صحيح مسلم (3/ 140)عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَبَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي قَالَ إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ

Dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami dia berkata, "Ketika aku sedang shalat bersama-sama Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari suatu kaum bersin. Lalu aku mengucapkan, 'Yarhamukallah (semoga Allah memberi Anda rahmat) '. Maka seluruh jamaah menujukan pandangannya kepadaku." Aku berkata, "Aduh, celakalah ibuku! Mengapa Anda semua memelototiku?" Mereka bahkan menepukkan tangan mereka pada paha mereka. Setelah itu barulah aku tahu bahwa mereka menyuruhku diam. Tetapi aku telah diam. Tatkala Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam selesai shalat, Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu (ungkapan sumpah Arab), aku belum pernah bertemu seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah! Beliau tidak menghardikku, tidak memukul dan tidak memakiku. Beliau bersabda, 'Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia (H.R. Muslim)

صحيح مسلم (3/ 142)عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَكُنَّا نَتَكَلَّمُ فِي الصَّلَاةِ يُكَلِّمُ الرَّجُلُ صَاحِبَهُ وَهُوَ إِلَى جَنْبِهِ فِي الصَّلَاةِ حَتَّى نَزَلَتْ{ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ }فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ وَنُهِينَا عَنْ الْكَلَامِ
Dari Zaid bin Arqam dia berkata, "Dahulu kami bercakap-cakap dalam shalat. Seorang laki-laki bercakap-cakap dengan teman di sampingnya dalam keadaan shalat, hingga turun ayat, '...Shalatlah kamu karena Allah dengan khusyu'. (Al-Baqarah: 238). Lalu kami disuruh diam, dan dilarang bercakap-cakap'." (H.R. Muslim)

Maka riwayat ini tidak menjadi dalil dilarangnya mengucapkan lafadz-lafadz sahutan ketika mendengar ayat tertentu di dalam Shalat. Hal itu dikarenakan perintah menyahut dengan lafadz tertentu pada ayat-ayat tertentu dinyatakan dengan lafadz Mutlak tanpa pembatasan, sehingga berlaku baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hal ini bermakna, lafadz-lafadz sahutan tersebut bukanlah termasuk ucapan manusia yang dilarang oleh syara'.  Lafadz-lafadz sahutan tersebut semakna dengan respon-respon ucapan Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam saat Shalat Tahajjud ketika membaca ayat-ayat Al-Quran sebagaimana yang dinyatakan dalam riwayat berikut ini;

صحيح مسلم (4/ 171)عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَصَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ

Dari Hudzaifah ia berkata; Pada suatu malam, saya shalat (Qiyamul Lail) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau mulai membaca surat Al Baqarah. Kemudian saya pun berkata (dalam hati bahwa beliau) akan ruku' pada ayat yang ke seratus. Kemudian (seratus ayat pun) berlalu, lalu saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan shalat dengan (surat itu) dalam satu raka'at. Namun (surat Al Baqarah pun) berlalu, maka saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan segera sujud. Ternyata beliau melanjutkan dengan mulai membaca surat An Nisa` hingga selesai membacanya. Kemudian beliau melanjutkan ke surat Ali Imran hingga selesai hingga beliau selesai membacanya. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon, dan bila beliau membaca ayat ta'awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan. (H.R. Muslim)

Selain ayat dalam surat At-Tin, ada pula sejumlah ayat lain yang disunnahkan menyahut dengan bacaan tertentu, diantaranya;

1.Surat Al-Qiyamah. Ketika sampai ayat yang berbunyi;

َلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِىَ الْمَوْتَى Maka menyahut dengan ucapan;

بَلَى  atau سُبْحَانَكَ atau سبحانك اللهم بلى atau سبحانه وبلى

2.Surat Al-Mursalat. Ketika sampai ayat yang berbunyi;

فَبِأَىِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ Maka menyahut dengan ucapan;

آمَنَّا بِاللَّهِ

3. Surat Al-A'la. Ketika membaca ayat yang berbunyi;

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى

Maka menyahut dengan ucapan;

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

4.Surat Ar-Rohman. Ketika sampai ayat yang berbunyi;

فَبِأَىِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka menyahut dengan ucapan;

لاَ بِشَىْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ

Dalil-dalil penjelasan di atas adalah riwayat-riwayat berikut ini;

سنن أبى داود - م (1/ 330)عَنْ مُوسَى بْنِ أَبِى عَائِشَةَ قَالَ كَانَ رَجُلٌ يُصَلِّى فَوْقَ بَيْتِهِ وَكَانَ إِذَا قَرَأَ (أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِىَ الْمَوْتَى) قَالَ سُبْحَانَكَ فَبَلَى فَسَأَلُوهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

dari Musa bin Abu Aisyah dia berkata; " Seseorang shalat diatas rumahnya, apabila ia selesai membaca ayat "alaisa dzaalika bi qaadirin 'ala an yuhyiyal mauta" (Bukankah Dzat yang demikian itu lebih mampu untuk menghidupkan yang mati)?" maka dia mengucapkan "subhanaka" lalu menangis. Mereka bertanya kepada laki-laki tersebut tentang perbuatannya itu, dia menjawab bahwa dirinya pernah mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." (H.R. Abu Dawud)

سنن أبى داود - م (1/ 329)عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا قَرَأَ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) قَالَ « سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى ». Dari Ibnu Abbas bahwasanya nabi SAW jika membaca sabbihisma robbikal a'la maka beliau mengucapkan  Subhana robbiyal a'la (H.R. Abu Dawud)

سنن الترمذى - مكنز (12/ 123، بترقيم الشاملة آليا)عَنْ جَابِرٍ رضى الله عنه قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى أَصْحَابِهِ فَقَرَأَ عَلَيْهِمْ سُورَةَ الرَّحْمَنِ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا فَسَكَتُوا فَقَالَ « لَقَدْ قَرَأْتُهَا عَلَى الْجِنِّ لَيْلَةَ الْجِنِّ فَكَانُوا أَحْسَنَ مَرْدُودًا مِنْكُمْ كُنْتُ كُلَّمَا أَتَيْتُ عَلَى قَوْلِهِ ( فَبِأَىِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) قَالُوا لاَ بِشَىْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ »

dari Jabir radliallahu 'anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar menemui para sahabatnya dan membacakan kepada mereka surat Ar Rahman dari awal hingga akhir, kemudian mereka terdiam. Lalu beliau berkata; sungguh aku telah membacakannya kepada jin pada malam kedatangan jin dan mereka lebih baik jawabannya daripada kalian. Aku setiap kali membaca FirmanNya: "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Arrahman 16 dan seterusnya), Mereka mengatakan; "laa bisyai'in min ni'amika robbanaa nukadzdzibu falakal hamdu."Tidak, kami tidak mendustakan sedikitpun kenikmatanMu wahai Tuhan kami. Segala puji bagiMu. (H.R. At-Tirmidzi). Wallahua'alam.

Ucapkan ini 7 kali selesai sholat magrib dan subuh


Muslim bin Haris Tamimi r.a meriwayatkan bahwa Baginda s.a.w berbisik kepadanya,
"Apabila kamu telah selesai solat Maghrib, bacalah 'اللهم أجرني من النار' [Allahumma ajirni minannar] ('Ya Allah, selamatkan daku daripada neraka') tujuh kali.
Karena sesungguhnya apabila kamu menyebutkan kalimah itu kemudian kamu mati pada malam itu maka kamu terselamat daripada neraka.
Dan apabila doa itu kamu baca sebanyak tujuh kali selepas solat Subuh dan kamu mati pada hari itu maka kamu akan terselamat daripada neraka."
Hadis Riwayat Abu Daud
Keterangan: Rasulullah s.a.w telah berbisik kepada sahabat tersebut supaya kepentingan perkara yang diberitahu terpahat di dalam hatinya.

Tiga cara therapy Ghibah

Dalam perjalanan Isra Mi’raj, Nabi Muhammad Rasulullah saw sempat melihat ke dalam neraka dan Rasulullah melihat pemandangan yang mengerikan di dalamnya. Beliau berkata : “Aku diperlihatkan orang yang mencabik-cabik mukanya sendiri dengan kuku-kuku tajam mereka.”

Dengan rasa penasaran, Rasulullah saw pun bertanya kepada Malaikat Jibril. “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka adalah para penggunjing semasa hidup di dunia, dan membuka aib kehormatan dirinya.” (HR Abu Daud).

Selain itu, ghibah menjadi faktor penyebab siksa di dalam kubur. Seperti hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA: “Suatu kali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati dua kuburan lalu berkata:”Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang disiksa, bukanlah karena kesalahan yang besar. Salah seorang dari keduanya karena tidak menjaga kesucian setelah buang air, dan satunya lagi berjalan ke sana kemari menyebar namimah (mengadu domba).”(H.R Al-Bukhari no:5592)

Ghibah diibaratkan memakan daging orang lain, enak rasanya hingga susah menghentikannya. Namun, mereka tidak mengetahui bahwa daging itu sudah basi alias telah menjadi bangkai.

Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu berbuat ghibah terhadap yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat [49]: 12).

Ada beberapa cara agar kita terhindar dari ghibah. Pertama, Rasulullah saw perintah agar orang iman gemar berbicara yang baik atau lebih baik diam. Kedua, melakukan klarifikasi (tabayyun) bila dijumpai pembicaraan ghibah yang dapat mengarah ke fitnah memecah kerukunan sesama orang manusia.

Sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam Alquran :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6]

Ketiga, menjadi penengah bila ditemukan pembicaraan ghibah, nasihatilah orang yang berbicara ghibah supaya tidak fitnah, bukan malah ikut larut dalam pembicaraan ghibah.

Dan selain itu, perbanyaklah berdzikir kepada Allah SWT agar dijauhkan dari ghibah. Dzikir ibarat obat hati, sedangkan ghibah adalah penyakitnya.

Momongan ?


Semalam ketika menghadiri sebuah majelis ilmu, saya bertemu dengan seorang sahabat yg sudah 12 tahun menikah namun hingga saat ini belumlah memiliki buah hati..

Sebut Saja Ummu A.. saya salut pada pernikahan beliau.. walaupun belasan tahun masih berdua, namun antara dirinya dan suaminya masih sangat romantiiiiss...
beliaupun bercerita kepada saya bagaimana ketika beberapa orang suka KEPO akan keadaannnya yg tak kunjung hamil.. padahal suaminya saja tidak mempermasalahkan dan yg acapkali memintanya bersabar.. namun justru ketenangan itu terganggu dari luar, dari ucapan ucapan yg tak bertanggung jawab..

"Sudah lama yaa nikahnya, tapi kok belum punya anak?"
"Pernikahan itu ga lengkap lho kalo tanpa tangisan buah hati."
"Kalo nikah ga punya keturunan, ntar apa bekal kita?"

Nah lhoo...
Kalo saja mereka yg berucap itu ingat bahwa para istri Nabi setelah Ibunda Khadijah.. yg mereka masih belia seperti Aisyah binti Abu Bakar, Zaenab Binti Jahsy, ataupun Shafiyyah Binti Huyay juga tak memiliki keturunan kan... namun apakah di kala itu para shahabiyah yg dikaruniai banyaknya keturunan juga mempertanyakan apalagi menyindir atau sampai menyinyir?? Tentu tidak..

Bukankah anak itu pemberian Allah? sebenarnya tidak masalah wanita yg belum punya momongan itu diajak ngobrol soal anak asal jangan memojokkan dan menjurus seolah olah karena dirinyalah rumah tangganya belum memiliki buah hati... inilah yg sering terjadi dan malah bikin sensitif..

Tiap orang itu di uji dan memiliki ujian masing masing...
yg belum memiliki anak di uji..
yg sudah punya anakpun di uji..
yg belum menikah di uji..
yg sudah menikah pun di uji..
yg miskin di uji..
yg kaya pun jg di uji..

Belum tentu seseorang yg sering dianggap remeh karena keterbatasan keadaannya seperti cacat fisik atau mental lebih menderita dari kita... bisa jadi dia lebih bahagia karena dia mampu mensyukuri tiap nikmat Allah padanya sedangkan kita tidak..

Kalo sering dibilang.. "kan ketika kita mati, kita juga butuh doa anak shalih??" memang benar.. namun ketika Allah tak menghendaki seorang wanita memiliki keturunan, tentu Allah lebih tahu apa yg tepat baginya.. dan wanita yg demikian tak perlu putus asa.. amal shalihnya dan doa sesama muslim akan sampai pula padanya..

Suami, istri, anak, harta, dan juga kedudukan maupun gelar.. itu semua amanah... sarana dan prasarana dari Allaah untuk kita lebih dekat pada Nya... bukan malah sebaliknya dijadikan ajang pamer, berbangga, serta merendahkan dan menghina orang lain..

Mari kita sibukkan diri dg apa yg telah Allah berikan untuk kita... jangan sibuk dengan melihat nikmat atau kurang orang lain.. karena itu bukan malah menambah rasa syukur kita namun malah menambah rasa sombong dan ingkar dalam hati...

Ari wahyu bintari facebook

Inspirasi : Dasar kelakuan anak muda jaman sekarang!


Hari itu saya belanja keperluan pribadi di sebuah swalayan. Setelah mengambil segala barang yang saya butuhkan, saya pun buru buru menuju antrian di kasir. Di depan saya ada seorang anak muda berpenampilan rada sangar dan di depan anak muda itu ada seorang ibu ibu berpenampilan sederhana dengan 2 orang anaknya yang sedang menghitung belanjaan mereka di kasir .

" Total seluruhnya 145 ribu bu " kata si neng penjaga kasir tersenyum ramah setelah menjumlahkan seluruh barang belanjaan si ibu . Ibu itu segera membuka dompetnya ... uangnya recehan semua dan sedikit lusuh , lalu dia menghitungnya satu persatu dengan wajah tertunduk . Kedua anaknya berdiri memperhatikan ibu mereka sambil sesekali memegang tangannya, keduanya terlihat tidak sabar . Antrianpun semakin panjang, maklum tanggal muda...

saya lihat wajah si ibu pucat pasi ... terlihat jelas ia kebingungan sebab ternyata uang yang ada di dompetnya kurang . Ia mulai berfikir untuk mengembalikan sebagian barang belanjaan yang diambilnya ... seketika tiba-tiba saja ... anak muda di depan saya lalu membungkuk sambil memungut uang 50 ribuan yg ada di lantai dan menyodorkannya ke pada ibu itu :

" maaf bu, hati hati bu kalau menghitung uang ... ini ada selembar uang ibu yang jatuh " ... si ibu yang bengong seperti tak percaya ... dengan tangan bergetar mengambil dan menerima uang itu ... dengan tatapan mata penuh syukur ia memandang pada si anak muda tsb.

Setelah membayar di kasir dengan gembira kedua anaknya menenteng kantong plastik belanjaan berlalu pergi . Anak muda itu membayar belanjaannya kemudian ia juga segera pergi ... saya kejar sambil tergesa-gesa menyusul dia ... setelah bertemu Saya berkata : " Dek saya tahu ... tadi kamu dengan sengaja menjatuhkan uang 50 rebuan kamu ..buat kamu kasihkan sama si ibu yang tadi itu ... saya lihat karena saya berada tepat di belakang kamu ... demi ALLAH saya bertanya , bagaimana kamu bisa mendapat ide itu ?"

... si anak muda dengan santun menjawab : " ALLAH lah yang mengilhamkan itu pada saya pak ... saya tidak ingin si ibu itu malu dihadapan kita dan anak-anak nya ... karena itu ALLAH menggerakkan hati saya untuk spontan mengerjakan apa yang bapak lihat " .... Subhanallah ... ternyata bila hati menginginkan kebaikan ... ALLAH akan membantu hamba NYA melakukan kebaikan itu ... sungguh ... kebaikan itu hanya mudah dilakukan bagi orang yang memang menginginkannya .... firman ALLAH :
فأما من أعطى و اتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى

(diambil dari facebook)
Original shared Triya Nani

Kisah seorang ulama dan seekor burung kakatua

ALKISAH, ada seorang guru agama yang mengajarkan tentang aqidah kepada murid-muridnya.
Dia mengajarkan “laa ilaaha illallah” kepada mereka dan menjelaskan maknanya.
Mendidik mereka dengan keteladanan Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika mengajarkan aqidah beliau berusaha menanamkannya kedalam jiwa murid-muridnya.
Sang guru itu senang memelihara burung dan kucing. Lalu seorang muridnya pun menghadiahkan padanya seekor burung kakatua. Makin hari sang guru pun senang dengan burung itu. Dan sering membawanya pada saat mengajar murid-muridnya. Sehingga kakaktua itu belajar mengucapkan kalimat tauhid “laa illaaha illallah”. Burung kakaktua itupun bisa mengucapkan (laa illaaha illallah) siang dan malam.

Suatu ketika murid-murid mendapati sang guru tengah menangis, ketika ditanya beliau menjelaskan dengan terbata-bata, kucing telah menerkam kakaktua dan membunuhnya. Merekapun bertanya dengan heran: karena inikah engkau menangis?, kalau anda menginginkan kami bisa datangkan burung lain bahkan yang jauh lebih baik.
Sang guru berkata: bukan karena itu aku menangis, tetapi yang membuat aku menangis adalah, ketika diserang kucing, burung itu hanya teriak-teriak saja sampai matinya, padahal dia sering sekali mengucapkan kalimat: “laa illaaha illallah”, tetapi ketika diterkam kucing ia lupa kalimat itu, tidak mengucapkan apapun kecuali hanya teriakan dan rintihan!. Karena waktu itu ia hanya mengucapkan laa illaaha illallah dengan lisannya saja, sementara hatinya tidak memahami dan tidak menghayatinya.
Sang gurupun berkata: aku khawatir kalau nanti kita seperti kakatua itu, saat kita hidup mengulang-ulang kalimat laa illaaha illallah dengan lisan kita, tapi ketika maut datang kitapun lupa tida bisa mengingatnya, karena hati kita belum menghayatinya.
Kemudian para muridnyapun ikut menangis, khawatir tidak jujur terhadap kalimat tauhid ini.

Mahluk paling iman


عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " أَيُّ الْخَلْقِ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا ؟ " ، قَالُوا : الْمَلائِكَةُ ، قَالَ : وَمَا لَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ؟ ، قَالُوا : فَالنَّبِيُّونَ ، قَالَ : وَمَا لَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ ؟ ، قَالُوا : فَنَحْنُ ، قَالَ : وَمَا لَكُمْ لا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ ؟ ، قَالَ : فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْجَبَ الْخَلْقِ إِلَيَّ إِيمَانًا لَقَوْمٌ يَكُونُونَ بَعْدَكُمْ ، يَجِدُونَ صُحُفًا فِيهَا كِتَابٌ يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا " ، وَرُوِيَ أَيْضًا عَنْ سَعِيدِ بْنِ بَشِيرٍ ، عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ أَنَسٍ مَوْصُولا .
Artinya :
Rasulullah SAW bertanya (kepada para Sahabat) ,"Siapakah diantara makhluk yang paling mengagumkan keimanannya, Mereka menjawab : Para Malaikat, Nabi bersabda," bagaimana tidak keimanan mereka mengagumkan sementara mereka berada disisi tuhan mereka, Para Sahabat berkata lagi," Para Nabi, Rasulullah bersabda bagaimana tidak keimanan para nabi mengagumkan sementara wahyu turun kepada mereka? lalu mereka berkata kalau begitu kamilah orangnya, Nabi menjawab bagaimana tidak keimananan kalian mengagumkan sementara aku berada di tengah tengah kalian?
Lalu nabi bersabda," makhluk yang paling mengagumkan keimanannya adalah kaum yang hidup setelah masa kalian lalu mereka hanya menjumpai kitab saja lalu mereka mengimani isi kitab tersebut.
Hadits ini juga diriwayatkan dari said bin basyir dari qatadah dari anas dengan sanad yang maushul
( Ad Dalailu an-Nubuwwah Lilbaihaqi , No.2921)

   

Inspirasi : Warteg Joni Abadi

Jika biasanya Anda menikmati makanan diiringi lantunan musik, hal berbeda disuguhkan Warteg Keliling "Joni Abadi".

Di warteg ini, pengunjung akan menikmati santap siang ataupun malam dengan lantunan ayat suci Al Quran.

Uniknya lagi, lantunan ayat suci Al Quran yang diperdengarkan bukan dari MP3, melainkan dari suara pengunjung di warteg tersebut.

Jika calon pengunjung mengaji hingga dua juz, maka mereka tidak perlu membayar makanan yang disantap alias gratis.

“Pengunjung yang mengaji dua juz bisa memilih makanan apa pun di warteg saya tanpa membayar (gratis),” tutur pemilik Joni Abadi, Ricky Ricarvy Irawan (31), kepada Kompas.com.

Sebelum makan siang, mereka membuka Al Quran kecilnya dan duduk di pinggir jalan untuk mengaji. Surat yang dibaca bebas. Bisa dilakukan tadarus bareng atau masing-masing.

Posisi duduk pun bebas. Mau di kursi yang sudah disediakan, atau kursi permainan yang ada di trotoar Lapang Ciujung, Jalan Supratman, Kota Bandung, tempat Joni Abadi ini biasa nongkrong.

“Saya fasilitasi di sini bisa nongkrong sambil baca Al Quran. Jadi selain berjualan, insya Allah saya ingin sambil syiar atau trip dakwah,” ungkap Ricky.

Karena warteg keliling ini baru buka dua bulan, sampai sekarang, yang mengaji di tempatnya masih teman-temannya yang tergabung dalam komunitas Pemuda Hijrah ataupun One Day One Juz.
Kehadiran mereka untuk melancarkan strategi penjualan wartegnya membuahkan hasil. Beberapa pengunjung biasanya ada yang tertarik hingga akhirnya mereka ikut mengaji bersama.

“Kalau berbicara keuntungan memang kecil. Namun, saya berbisnis tidak hanya untuk mencari untung, tetapi keberkahan. Alhamdulillah jika nantinya warteg ini bisa membuat orang jadi suka mengaji,” imbuhnya.

Ricky percaya bahwa musik dan alunan ayat suci Al Quran itu memengaruhi aspek psikologis. Jika mendengar musik sedih, secara tidak langsung akan membuat hati jadi galau.

Daripada galau berkelanjutan, lebih baik mengaji atau mendengarkan alunan ayat suci Al Quran. “Kalau mendengarkan ayat-ayat Al Quran, hati menjadi tenang, selalu mengingatkan kita pada Allah. Sharing pahalalah,” ucapnya.



Dzikir

Dzikir adalah ibadah yg sangat mulia. Di antara kefadholan (keutamaannya) adalah bisa lebih menentramkan hati & jiwa dsb. Di antara dzikir yg bisa dirutinkan setiap saat, dibaca agar lisan terus basah dengan dzikrullah adalah 4 kalimat mulia, yaitu :
(1) SUBHANALLOH,
(2) ALHAMDULILLAAH,
(3) LAA ILAAHA ILLALLOH,
(4) ALLOHU AKBAR.
Berikut beberapa hadits yg menjelaskan keutamaan dzikir2 tsb :
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ.
Dari Samuroh bin Jundab, ia berkata bahwa ROSULULLOH Shollallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
"Ada empat ucapan yg paling disukai oleh Allah:
(1) Subhanalloh, (2) Alhamdulillaah, (3) Laa ilaaha illalloh, dan (4) Allohu Akbar.
Tidak melanggar (berdosa) bagimu dengan mana saja kamu memulai"
(HR. Muslim no. 2137).
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ».
Dari Abu Huroiroh RA, dia berkata, "ROSULULLOH Shollallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda:
"Sesungguhnya membaca SUBHANALLOH WALHAMDULILLAAH WA LAA ILAAHA ILLALLOH WALLOHU AKBAR (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)...,
adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari."
(HR. Muslim no. 2695).
Al Munawi Rohimahullah mengatakan : "Segala sesuatu ygg dikatakan antara langit dan bumi, atau dikatakan lebih baik dari sesuatu yg terkena sinar matahari atau tenggelamnya, ini adalah ungkapan yg menggambarkan dunia dan seisinya."
Dari sini menunjukkan bahwa : KE EMPAT KALIMAT TERSEBUT LEBIH BAIK DARIPADA DUNIA SEISINYA.
SELAMAT MEMPERBANYAK DZIKIR
Semoga manfaat semangat barokah.. Amiin

Adab bertetangga

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya. Maka, kehadiran tetangga dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim sangat dibutuhkan. AllahTa’ala berfirman,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ
Artinya: “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An Nisa: 36).
Nabi shallallahu ‘alaihi wassallamjuga bersabda,
مَا زَالَ يُوصِينِى جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
Artinya: “Jibril senantiasa bewasiat kepadaku agar memuliakan (berbuat baik) kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya” (HR. Al Bukhari no.6014).
Adab-adab seorang muslim kepada tetangganya yang patut kita perhatikan.
Diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaq ‘alaih).
Larangan mengganggu atau membikin tidak nyaman kepada tetangga.
Dalam hadits Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu disebutkan adanya larangan dan sikap tegas bagi seseorang yang mengganggu tetangganya. Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam menggandengkan antara iman kepada Allah dan hari Akhir, menunjukkan besarnya bahaya mengganggu tetangga. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya’”(HR. Bukhari no.1609, Muslim no.2463).
Dan dalam Hadits lainnya, Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhumeriwayatkan bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wassallambersabda,
وَاللَّه لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ
Artinya: “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. “Sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yang tetangganya tidak aman dari keburukannya” (HR. Bukhari no.6016).
Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Artinya: “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya” (HR. Muslim no.46, Al Bukhari no.7818).
Semoga manfaat dan barokah

Sahabat Anas bin Malik

Usia Anas masih sangat muda, ketika ibunya al-Ghumaisha mentalqinnya dengan dua kalimat syahadat. Ibunya mengisi hatinya yang bersih dengan kecintaaan kepada Nabi al-Islam Muhammad bin Abdullah.

Maka di benak Anas pun mulai tumbuh rasa cinta kepada Rasul sekalipun dia belum pernah bersua dengan Nabi yang mulia tersebut, hanya mendengar kisah beliau sebatas dari orang ke orang.

Tidak mengherankan, karena terkadang telinga lebih dulu merindukan sesuatu daripada mata.

Betapa seringnya Anas kecil berangan bisa berkelana menemui Nabinya di Mekah atau beliau bisa datang kepada mereka di Yatsrib sehingga dia bisa berbahagia karena bisa melihatnya dan tenteram karena berjumpa dengannya.

Angan-angan itu dalam waktu dekat ternyata telah berubah menjadi kenyataan, Yatsrib yang membanggakan dan berbahagia mendengar bahwa Nabi dan shahabatnya, ash-Shiddiq, sedang dalam perjalanan ke arahnya. Maka keceriaan menaungi setiap rumah dan kebahagiaan menyelimuti semua hati.

Mata dan hati bergayut dengan jalan yang penuh berkah, jalan yang membawa langkah nabi dan shahabbatnya ke Yatsrib.

Anak-anak muda bergumam setiap cahaya pagi bersinar, Muhammad telah datang.

Maka Anas bersama anak-anak kecil lainnya berlari-lari hendak menyambutnya, namun dia pun pulang dengan sedih lagi kecewa.

Di suatu pagi yang indah yang penuh asa dan keceriaannya yang semerbak, orang-orang Yatsrib pun saling berbisik satu sama lain, “Muhammad dan shahabatnya telah berjalan mendekati Madinah.”

Maka orang banyak pun berhamburan ke jalan-jalan yang penuh berkah, jalan yang membawa Nabi petunjuk dan kebaikan kepada mereka.

Mereka berondong-bondong menyambut kedatangan beliau secara bergelombang, kelompok demi kelompok, disela-sela mereka ada sekumpulan anak-anak yang tak kalah bersemangat, wajah-wajah mereka dihiasi kebahagiaan dan menyatu dengan hati kecil mereka serta yang penuh suka cita memenuhi jiwa mereka yang jernih.

Di barisan depan anak-anak tersebut adalah Anas bin Malik al-Anshari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shahabatnya ash-Shiddiq datang, keduanya berjalan di antara kumpulan orang-orang dewasa dan anak-anak dalam rombongan yang besar.

Adapun kaum wanita dan gadis-gadis remaja yang biasa tinggal di rumah, mereka naik ke atap-atap rumah, mereka ingin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bergumam, “Yang Mana dia? Yang mana dia?”.

Hari itu adalah hari yang tidak terlupakan. Anas bin Malik senantiasa mengingatnya sampai dia berumur seratus tahun lebih.

Tidak lama setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah, al-Ghumaisha binti Milhan, datang kepada beliau dengan disertai Anak anak laki-lakinya yang masih kanak-kanak, anak laki-laki itu berlarian di depan ibunya dengan ujung rambut yang jatuh di keningnya.

Al-Ghumaisha mengucapkan salam kepada Nabi dan dia berkata, “Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semua laki-laki dan wanita dari Anshar telah memberimu hadiah, tetapi aku tidak mempunyai apa pun yang bisa aku jadikan hadiah untukmu selain anak laki-lakiku ini. Terimalah dia, dan dia akan berkhidmat kepadamu sesuai dengan apa yang engkau inginkan.”

Nabi berbahagia, beliau memandang anak muda ini dengan wajah berseri-seri, beliau mengusap kepalanya dengan tangan beliau yang mulia, menyentuh ujung rambutya dengan jari-jemari beliau yang lembut dan beliau menganggapnya sebagai keluarga.

Anas bin Malik atau Unais (Anak kecil), begitu terkadang mereka memanggilnya sebagai ungkapan sayang kepadanya, berumur sepuluh tahun manakala dia berbahagia bisa berkhidmat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Anas hidup di samping Nabi dan berada di bawah bimbingan beliau sampai Nabi berpulang ke ar-Rafiq al-A’la yaitu selama kurang lebih 10 tahun.

Selama itu Anas memperoleh bimbingan dari Nabi yang dengannya dia menyucikan jiwanya, mwmahami hadits beliau yang memenuhi dadanya, mengenal akhlak beliau yang agung, rahasia-rahasia dan sifat-sifat terpuji beliau yang tidak dikenal oleh orang lain.

Anas bin Malik mendapatkan perlakuan yang mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah diperoleh oleh seorang anak dari bapaknya. Mengenyam keluhuran perangai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keangungan sifat-sifatnya yang membuat dunia patut untuk iri kepadanya.

Biarkanlah Anas sendiri yang menyampaikan sebagian lembaran cemerlang dari perlakuan mulia yang dia dapatkan di bawah naungan seorang nabi yang pemurah dan berhati mulia, karena Anas lebih tahu tentangnya dan lebih berhak untuk menceritakannya.

Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukan melaksanakan tugas Rasul, aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tersenyum, beliau bersabda, “Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Maka aku pun salah tingkah aku menjawab, “Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Demi Allah, aku telah berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku lakukan, “Mengapa kamu melakukan ini?” Beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku tinggalkan, “Mengapa kamu tinggalkan ini?”

Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Anas, terkadang beliau memanggilnya dengan Unais sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang, dan di lain waktu Nabi memanggilnya, Wahai anakku.

Nabi memberikan nasihat-nasihat dan petuah-petuah beliau yang memenuhi hati dan jiwanya.

Di antara nasihat-nasihat itu adalah sabda Nabi kepadanya:

“Wahai anakku, jika kamu mampu mendapatkan pagi dan petang sementara hatimu tidak membawa kebencian kepada seseorang, maka lakukanlah. Wahai anakku, sesungguhnya hal itu termasuk sunahku, barangsiapa menghidupkan sunahku maka dia mencintaiku. Barangsiapa mecintaiku maka berarti dia bersamaku di surga. Wahai anakku, jika kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, karena ia merupakan keberkahan bagimu dan keluargamu.”

Anas bin Malik hidup setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat selama delapan puluh tahun lebih, selama itu Anas mengisi dada umat dengan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung dan menumbuhkan akal pikiran mereka dengan fikih kenabian.

Selama itu Anas menghidupkan hati umat dengan petunjuk Nabi yang dia sebarkan diantara para sahabat dan tabiin, dengan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berharga dan perbuatan-perbuatan beliau yang mulia yang dia tebarkan di antara manusia.

Dengan umurnya yang panjang, Anas menjadi rujukan bagi kaum muslimin di masa hidupnya, mereka bertanya kepada Anas tentang hal itu, Anas pun berkata, “Aku tidak pernah menyangka akan bisa hidup sehingga aku melihat orang-orang seperti kalian yang berdebat dalam perkara telaga Nabi, sungguh aku telah meninggalkan wanita-wanita tua di belakangku, setiap dari mereka tidak melakukan shalat terkecuali dia memohon kepada Allah agar memberinya minum dari telaga Nabi.

Anas bin Malik terus hidup bersama kenangannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama kehidupan berlangsung.

Dia sangat berbahagia pada hari pertemuannya dengan beliau, sangat bersedih di hari perpisahannya dengan beliau, sangat sering mengulang-ulang sabda beliau.

Dia sangat bersungguh-sungguh untuk mengikuti beliau dalam sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau, mecintai apa yang beliau cintai, membenci apa yang beliau benci. Dua hari yang paling diingat oleh Anas dalam hidupnya: Hari pertama kali pertemuannya dengan Nabi dan hari perpisahannya dengan beliau untuk terakhir kali.

Bila Anas teringat hari pertama, maka dia berbahagia dan bersuka cita, namun jika hari kedua terlintas di benaknya maka dia menangis berduka, membuat orang-orang yang di sekelilingnya ikut menangis.

Anas sering berkata, “Sungguh aku telah melihat hari dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami dan aku juga melihat hari di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami. Aku tidak melihat dua hari yang menyerupai keduanya. Hari kedatangan belau di Madinah, segala sesuatu di sana bercahaya. Tetapi di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir menghadap kepada Rabbya, segala sesuatu terasa gelap gulita.

Pandangan terakhirku kepada beliau terjadi di hari Senin, ketika kain penutup kamar beliau dibuka, aku melihat wajah beliau seperti kertas mushaf, pada saat itu banyak orang berdiri di belakang, Abu Bakar memberi isyarat kepada mereka agar tetap berada di tempat.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat di pagi hari itu. Kami tidak pernah melihat suatu pemandangan yang paling kami kagumi daripada wajah beliau manakala kami memasukkan tanah ke kubur beliau.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk Anas bin Malik lebih dari sekali.

Di antara doa Nabi untuknya:

“Ya Allah, limpahkanlah harta dan anak kepadanya, berkahilah dia padanya.”

Allah Ta’ala mengabulkan doa Nabi. Anas menjadi orang Anshar yang palik banyak hartanya, paling banyak keturunannya, sampai-sampai dia melihat anak-anak dan keturunannya melebihi angka seratus.

Allah Ta’ala memberkahi umurnya sehingga dia hidup selama 103 tahun.

Anas sangat berharap mendapatkan syafaat Nabi di hari Kiamat, Anas sering berkata, “Sesungguhnya aku berharap bisa bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Kiamat, lalu aku berkata kepada beliau, “Aku adalah pelayan kecilmu, Unais.”

Ketika Anas sakit, sebelum wafatnya, dia berkata kepada keluarganya, “Talqinlah aku dengan Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadur Rasulullaah.” Maka Anas senantiasa mengucapkannya sampai dia meninggal.

Anas mewasiatkan agar mengubur tongkat kecil milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersamanya, maka tongkat itu diletakkan disampingnya.

Selamat untuk Anas bin Malik al-Anshari yang telah mendapatkan limpahan kebaikan dari Allah. Dia hidup dalam bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung selama sepuluh tahun sempurna.

Dia adalah orang ketiga setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah membalasnya dan membalas ibunya atas apa yang dia berikan untuk Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baiknya balasan