Komikstrip pingin jadi baik: Lunasi hutang, jangan menghindar


Komikstrip @pengenjadibaik Edisi 50: Lunasi Hutang, Jangan Menghindar
Diwarnai oleh akhuna Roy Renaldo

Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Payung raksasa masjidil haram


Payung Raksasa Masjidil Haram
Dalam beberapa tahun mendatang, Kerajaan Arab Saudi berencana membangun payung raksasa di Masjidil Haram. Payung ini diharapkan bisa melindungi para jamaah dari sengatan sinar matahari.
Komandan Pasukan Keamanan Masjidil Haram, Mayor Jenderal Muhammad Al-Ahmadi mengatakan pembangunan dimulai 2018. Sebuah video yang memperlihatkan model pembangunan payung raksasa telah dirilis dan langsung viral di media sosial. Semoga segera menjadi kenyataan. Aamiin.

Sumber : Multazam wisata instagram

Abdullah bin mas'ud

Kisah Sahabat Nabi: Abdullah bin Mas'ud, Pemegang Rahasia Rasulullah

Tak berapa lama setelah memeluk Islam, Abdullah bin Mas'ud mendatangi Rasulullah dan memohon kepada beliau agar diterima menjadi pelayan beliau. Rasulullah pun menyetujuinya.

Sejak hari itu, Abdullah bin Mas'ud tinggal di rumah Rasulullah. Dia beralih pekerjaan dari penggembala domba menjadi pelayan utusan Allah dan pemimpin umat. Abdullah bin Mas'ud senantiasa mendampingi Rasulullah bagaikan layang-layang dan benangnya. Dia selalu menyertai kemana pun beliau pergi.

Dia membangunkan Rasulullah untuk shalat bila beliau tertidur, menyediakan air untuk mandi, mengambilkan terompah apabila beliau hendak pergi dan membenahinya apabila beliau pulang. Dia membawakan tongkat dan siwak Rasulullah, menutupkan pintu kamar apabila beliau hendak tidur.

Bahkan Rasulullah mengizinkan Abdullah memasuki kamar beliau jika perlu. Beliau memercayakan kepadanya hal-hal yang rahasia, tanpa khawatir rahasia tersebut akan terbuka. Karenanya, Abdullah bin Mas'ud dijuluki orang dengan sebutan "Shahibus Sirri Rasulullah" (pemegang rahasia Rasulullah).

Abdullah bin Mas'ud dibesarkan dan dididik dengan sempurna dalam rumah tangga Rasulullah. Karena itu tidak kalau dia menjadi seorang yang terpelajar, berakhlak tinggi, sesuai dengan karakter dan sifat-sifat yang dicontohkan Rasulullah kepadanya. Sampai-sampai orang mengatakan, karakter dan akhlak Abdullah bin Mas'ud paling mirip dengan akhlak Rasulullah.

Abdullah bin Mas'ud pernah berkata tentang pengetahuannya mengenai Kitabullah (Al-Qur'an) sebagai berikut, "Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur'an, melainkan aku tahu di mana dan dalam situasi bagaimana diturunkan. Seandainya ada orang yang lebih tahu daripada aku, niscaya aku datang belajar kepadanya."

Abdullah bin Mas'ud tidak berlebihan dengan ucapannya itu. Kisah Umar bin Al-Khathab berikut memperkuat ucapannya. Pada suatu malam, Khalifah Umar sedang dalam perjalanan, ia bertemu dengan sebuah kabilah. Malam sangat gelap bagai tertutup tenda, menutupi pandangan setiap pengendara. Abdullah bin Mas'ud berada dalam kabilah tersebut. Khalifah Umar memerintahkan seorang pengawal agar menanyai kabilah.

"Hai kabilah, dari mana kalian?" teriak pengawal.

"Min fajjil 'amiq (dari lembah nan dalam)," jawab Abdullah.

"Hendak kemana kalian?"

"Ke Baitu Atiq (rumah tua, Ka'bah)," jawab Abdullah.

"Di antara mereka pasti ada orang alim," kata Umar.

Kemudian diperintahkannya pula menanyakan, "Ayat Al-Qur'an manakah yang paling ampuh?"

Abdullah menjawab, "Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak pula tidur..." (QS Al-Baqarah: 255).

"Tanyakan pula kepada mereka, ayat Al-Qur'an manakah yang lebih kuat hukumnya?" kata Umar memerintah.

Abdullah menjawab, "Sesungguhnya Allah memerintah kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang kamu dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."(QS An-Nahl: 9).

"Tanyakan kepada mereka, ayat Al-Qur'an manakah yang mencakup semuanya!" perintah Umar.

Abdullah menjawab, "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan walaupun seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan walaupun sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula." (QS Al-Zalzalah: 8).

Demikian seterusnya, ketika Umar memerintahkan pengawal untuk bertanya tentang Al-Qur'an, Abdullah bin Mas'ud langsung menjawabnya dengan tegas dan tepat. Hingga pada akhirnya Khalifah Umar bertanya, "Adakah dalam kabilah kalian Abdullah bin Mas'ud?"

Jawab mereka, "Ya, ada!"

Abdullah bin Mas'ud bukan hanya sekedar qari' (ahli baca Al-Qur'an) terbaik, atau seorang yang sangat alim atau zuhud, namun ia juga seorang pemberani, kuat dan teliti. Bahkan dia seorang pejuang (mujahid) terkemuka. Dia tercatat sebagai Muslim pertama yang mengumandangkan Al-Qur'an dengan suara merdu dan lantang.

Pada suatu hari para sahabat Rasulullah berkumpul di Makkah. Mereka berkata, "Demi Allah, kaum Quraisy belum pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur'an yang kita baca di hadapan mereka dengan suara keras. Siapa kira-kira yang dapat membacakannya kepada mereka?"

"Aku sanggup membacakannya kepada mereka dengan suara keras," kata Abdullah.

"Tidak, jangan kamu! Kami khawatir kalau kamu membacakannya. Hendaknya seseorang yang punya keluarga yang dapat membela dan melindunginya dari penganiayaan kaum Quraisy," jawab mereka.

"Biarlah, aku saja. Allah pasti melindungiku," kata Abdullah tak gentar.

Keesokan harinya, kira-kira waktu Dhuha, ketika kaum Quraisy sedang duduk-duduk di sekitar Ka'Baha Ad-Daulah. Abdullah bin Mas'ud berdiri di Maqam Ibrahim, lalu dengan suara lantang dan merdu dibacanya surah Ar-Rahman ayat 1-4.

Bacaan Abdullah yang merdu dan lantang itu kedengaran oleh kaum Quraisy di sekitar Ka'bah. Mereka terkesima saat mendengar dan merenungkan ayat-ayat Allah yang dibaca Abdullah. Kemudian mereka bertanya, "Apakah yang dibaca oleh Ibnu Ummi Abd (Abdullah bin Mas'ud)?"

"Sialan, dia membaca ayat-ayat yang dibawa Muhammad!" kata mereka begitu tersadar. Lalu mereka berdiri serentak dan memukuli Abdullah. Namun Abdullah bin Mas'ud meneruskan bacaannya hingga akhir surah. Ia lalu pulang menemui para sahabat dengan muka babak belur dan berdarah.

"Inilah yang kami khawatirkan terhadapmu," kata mereka.

"Demi Allah, kata Abdullah, "Bahkan sekarang musuh-musuh Allah itu semakin kecil di mataku. Jika kalian menghendaki, besok pagi aku akan baca lagi di hadapan mereka."

Abdullah bin Mas'ud hidup hingga masa Khalifah Utsman bin Affan memerintah. Ketika ia hampir meninggal dunia, Khalifah Utsman datang menjenguknya. "Sakit apakah yang kau rasakan, wahai Abdullah?" tanya khalifah.

"Dosa-dosaku," jawab Abdullah.

"Apa yang kau inginkan?"

"Rahmat Tuhanku."

"Tidakkah kau ingin supaya kusuruh orang membawa gaji-gajimu yang tidak pernah kau ambil selama beberapa tahun?" tanya Khalifah.

"Aku tidak membutuhkannya," kata Abdullah.

"Bukankah kau mempunyai anak-anak yang harus hidup layak sepeninggalmu?" tanya Utsman.

"Aku tidak khawatir, jawab Abdullah, "Aku menyuruh mereka membaca surah Al-Waqi'ah setiap malam. Karena aku mendengar Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang membaca surah Al-Waqi'ah setiap malam, dia tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya!"

Pada suatu malam yang hening, Abdullah bin Mas'ud pun berangkat menghadap Tuhannya dengan tenang.

Mengapa setoran haji Rp 25 juta?


Multazam Wisata
Mengapa Setoran Haji Rp. 25 Juta?

Banyak yang bertanya, mengapa setoran haji di Indonesia dipatok Rp. 25 juta? Mengapa tak lebih rendah, misalnya Rp. 4 juta? Bukankah lebih kecil lebih baik?

Menjawab pertanyaan ini, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Nizar Ali menyatakan jumlah setoran ditetapkan melalui berbagai pertimbangan. Salah satunya agar komitmen kaum muslimin untuk berhaji tetap tinggi.

"Jika jumlah setoran terlalu rendah, dikhawatirkan calon jamaah dengan mudahnya mendaftar lalu membatalkan komitmennya untuk berangkat haji. Sekarang saja masih banyak yang tidak jadi berangkat karena berbagai alasan," kata Nizar.

Tak hanya itu, setoran yang terlalu rendah berpotensi memperpanjang daftar tunggu yang sekarang sudah mencapai belasan tahun. Nizar berharap ke depan, kuota jamaah haji dari Indonesia bisa ditingkatkan sehingga lebih banyak yang berangkat haji.

Kantor Multazam Wisata:
Ruko Kampung Dua Jl. KH. Noer Alie No.1G Jakasampurna, Bekasi Barat, Kota Bekasi 17125. Telepon 021-29285927.

Apakah jual beli online itu halal ?

Apakah jual beli online itu HALAL?

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mepengaruhi segala sendi kehidupan manusia. Jual beli yang pada awalnya harus bertemu secara langsung, saat ini dapat di lakukan tanpa harus bertatap muka. Melalui internet dan berbagai media sosial, seperti facebook, blackberry messenger (BBM), whatsapp, Google plus, dan lain-lain seseorang bisa menawarkan barang dagangannya dan mencari barang atau jasa yang di butuhkan. Ada beberapa keuntungan dari bisnis online menggunakan media sosial, yaitu :

Apakah jual beli online itu HALAL

1) mudah dilakukan;
2) modalnya relative lebih rendah;
3) biaya promosi murah ;
4) bekerja lebih cepat dalam menyebarkan informasi dagangan.
5) Banyak orang yang telah mendapatkan keuntungan besar dari bisnis online ini.

Mencari maisyah pada hakekatnya adalah sebagai bekal untuk beribadah. Prinsip dasar dalam berbisnis dengan demikian adalah mendapatkan rezeki yang halal dan barokah. Masih banyak pertanyaan mengenai kehalalan dari bisnis online. Sebagian menganggap bahwa bisnis online adalah haram karena jual beli yang tidak diketahui kualitas barangnya. Sebagian lagi menghalalkan karena prinsip jual beli itu hukum asalnya diperbolehkan. Bagaimanakah sebenarnya kedudukan bisnis online menurut syariat islam?

Jual beli hukum asalnya di perbolehkan berdasarkan dalil:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا .....* سورة البقراة 275


Artinya : … dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.


عَنْ دَاوُدَ بْنِ صَالِحٍ الْمَدنِيِّ ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ ، يَقُولُ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ " .  رواه ابن ماجة حكم الالباني صحيح



Artinya : Dari Dawud bib shalih al-madini dari bapaknya dia berkata aku mendengar Abu Sa’id berkata : Rosulullah SAW bersabda : sesungguhnya jual beli itu berdasarkan saling ridla.

Allah melalui Rosul-Nya telah memberikan rambu – rambu jual beli yang tidak diperbolehkan berdasarkan dalil berikut ini :


عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرٍو قَالَ رَسُوْل الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : "لَايَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ، وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ، وَلَا رِبْحُ مَالَمْ تَضْمَنْ، وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدِكَ" رواه ابو داود (حكم الالباني): حسن صحيح


Artinya : Dari Abdillah bin Amr dia berkata: Rosulullah SAW bersabda : Tidak halal pinjam dan jual-beli, tidak halal dua syarat dalam satu penjualan, tidak halal keuntungan apa-apa yang kamu belum menguasai barangnya ( menjual barang yang telah dibelinya yang oleh si penjual barangnya belum diserahkan kepadamu), dan tidak halal jual beli apa-apa  yang tidak ada di sisimu.

عَنْ أَبِي هُرَيرَةَ قَالَ رَسُوْل الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيعُ الحَصَاةِ وَعَنْ بَيعِ الْغَرَرِ. رواه مسلم


Artinya : Dari Abu Hurairoh : Rosulullah SAW melarang dari jual beli hashah dan jual beli gharar.

Jual beli system pesanan, dimana penjual menawarkan barang dagangannya dengan spesifikasi yang jelas, ukuran/timbangan yang jelas, waktu pengiriman yang jelas diperbolehkan. Jual beli ini dinamakan jual beli pesanan menggunakan akad salam, yaitu jual beli barang dengan cara pemesanan dengan syarat - syarat tertentu dan pembayaran tunai terlebih dahulu secara penuh di muka. Walaupun barang belum di serahkan meskipun uang sudah di serahkan, namun jual beli seperti ini di perbolehkan berdasarkan dalil berikut ini.

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ رَسُوْل الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ وَهُمْ يُسْلِفُوْنَ بِالتَّمْرِ السُّنَتَيْنِ وَالثَّلَاثَ فَقَالَ مَنْ أسْلَفَ فِيْ شَيْءٍ فَفِيْ كَيْلٍ مَعْلُوْمٍ وَوَزْنٍ مَعْلُوْمٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . رواه البخاري في كتب السلم

Artinya : Dari Ibni Abbas, ia berkata : Nabi SAW datang ke Madinah, dan mereka meminjam uang untuk pembelian kurma dua atau tiga tahun mendatang. Maka Nabi bersabda : “ Barang siapa yang melakukan jual beli salaf/salam dalam sesuatu, hendaklah dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas sampai waktu yang jelas.”

Berdasarkan dalil-dalil diatas, jual beli online pada dasarnya diperbolehkan apabila memenuhi beberapa syarat berikut ini.

Pertama, barang yang di perjual belikan adalah barang yang halal.

Kedua, penjual menjelaskan secara rinci spesifikasi barang yang ditawarkan didalam media promosi yang dibuat.

Ketiga, apabila barang tersebut bukan miliknya dan atau bukan perwakilan dari distributor barang tersebut, maka tidak boleh mengatakan “saya jual”, atau “silahkan pesan”.

Keempat, mekanisme pembayarannya dijelaskan secara rinci.

Kelima, pembeli memiliki hak memilih untuk melanjutkan atau meneruskan pembelian pesanannya apabila barang yang diterimanya berbeda dengan yang telah dipesan.

Jangan pernah bersandar pada amal


*Jangan pernah bersandar pada Amal*

*-Ada 4 Pria-* berbicara tentang amal ibadah mereka dan kesuksesan yang didapat :

*-Pria 1 :-*
Alhamdulillah, sejak sering sholat Tahajud dan shalat Dhuha, rejeki menjadi lancar. Bisnis sukses, sebentar lagi anak saya lulus SMU, rencananya akan sekolah keluar negeri.

*-Pria 2 :-*
Bukan main, hebat sekali, sejak naik haji dan umroh, ibadahku semakin rajin, Alhamdulillah anak juga sukses, rumahnya harganya miliaran, asset bertambah, orang tua sangat bangga, berkah doa saya.

*-Pria 3 :-*
Masya Allah, sungguh nikmat tak terkira sejak rajin puasa, rajin shalat subuh di Masjid dan bersedekah, rezeki bagaikan sungai mengalir tidak ada putus-putusnya. Anak baru selesai kuliah di luar negeri dan jadi staff khusus Menteri.

Ketiga pria tersebut kemudian melirik ke arah Pria ke-4 yg sejak tadi hanya terdiam.

Salah satu bertanya kepada Pria ke-4.
"Bagaimana dirimu ? kenapa Kau diam saja ?"

*-Pria 4 :-*
Saya tidak sehebat kalian, jangankan kesuksesan, bahkan saya tidak tahu ibadah yang saya lakukan diterima atau tidak oleh Allah Subhanahu Wa ta'ala.
Saya akan tahu ibadah saya diterima atau saya sukses setelah meninggal nanti.
Jadi saya belum bisa menceritakan ibadah yang saya lakukan dan balasan yang Allah berikan kepada saya saat ini.

Jangan bersandar pada amal, sebab dari "ketertipuan" ini adalah sikap bersandar kepada amal secara berlebihan, ini akan melahirkan kepuasan, kebanggaan dan akhlak buruk kepada Allah Ta'ala.

*Setiap orang yang melakukan "amal ibadah" tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Mereka juga tidak tahu betapa besar dosa dan maksiatnya, juga mereka tidak tahu apakah amalnya "bernilai keikhlasan" atau tidak.*

Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk meminta rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah maha pengampun.

*Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Dan di antara rahmat-Nya adalah dia memberikan taufik untuk beramal dan hidayah untuk taat kepada-Nya.*
Karenanya, kita wajib bersyukur kepada Allah dan merendahkan diri kepada-Nya.
Tidak layak Hamba bersandar kepada amalnya.
Seorang Hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang seolah-olah bisa terlaksana karena pilihan dan usahanya semata, apalagi ada perasaan telah memberikan kebaikan untuk Allah.

Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hamba Nya. Dia maha kaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya

Wallahu A'lam

Astaghfirullohaladzim,
*"Ampunilah kami ya Allah, jika di hati kami masih ada rasa bangga diri terhadap amal-amal kami"*

# Reminder for my self
# Without Allah i'm nothing

Ayat ayat Al Quran tentang orang munafik


S U R A T A L - I M R O N

3: ayat 156. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.

S U R A T A N - N I S A '

4:61. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

Ayat Al-Qur'an Tentang Orang Munafik
4:62. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna".

4:78. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?

4:81. Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: "(Kewajiban kami hanyalah) taat". Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.

4:88. Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.

4:138. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,

4:140. Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam,

4:142. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

4:145. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

S U R A T A L - M A A I D A H

5:52. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

S U R A T A L - A N F A A L

8:49. (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya". (Allah berfirman): "Barang siapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".

S U R A T A T - T A U B A H

9:56. Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu).

9:61. Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: "Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya". Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu". Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.

9:63. Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya Barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar.

9:67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.

9:68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal,

9:69. (keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah meni'mati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu meni'mati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi.

9:73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.

9:74. Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.

9:79. (Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.

9:86. Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): "Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya", niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: "Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk".

9:94. Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan uzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah: "Janganlah kamu mengemukakan 'uzur; kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya. Dan Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".

9:101. Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.

9:107. Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).

9:124. Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.

9:126. Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertobat dan tidak (pula) mengambil pengajaran?

S U R A T H U U D

11:5. Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

S U R A T A L - A H Z A B

33:1. Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,

33:12. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya".

33:17. Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.

33:24. supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

33:48. Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung.

33:60. Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar,

33:73. sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

S U R A T M U H A M M A D

47:26. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): "Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan", sedang Allah mengetahui rahasia mereka.

S U R A T A L - F A T H

48:6. dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.

S U R A T A L - H A D I D

57:13. Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.

57:14. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka menjawab: Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.

S U R A T A L - H A S Y R

59:11. Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli Kitab: "Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu". Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.

59:12. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan.

59:16. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam".

S U R A T A L - M U N A F I Q U N

63:1. Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

63:7. Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar): "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)". Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.

63:8. Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

S U R A T A T T A H R I M

66:9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Ibu tanpa bekal agama

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ
_*IBU TANPA BEKAL AGAMA*_
√ *Seorang ibu insya ALLAH tidak akan ada NIAT menjerumuskan anaknya ke sesuatu yang mudharat apalagi SENGAJA ingin mencelakakan dunia dan akherat anak anaknya.*
√ *Tapi... Seorang ibu tanpa bekal agama saat mendidik anak sangat mungkin melakukan hal yang sebaliknya.*
√ *Berapa banyak justru seorang ibulah yang menyuruh anaknya yang msh kecil belajar naik motor atau naik mobil dan bangga saat kecil-kecil sudah bisa anter-anter ke pasar.*
√ *Berapa banyak justru seorang ibulah yang menyuruh anak gadisnya dandan cantik setiap keluar rumah dan bangga saat anaknya memiliki pacar.*
√ *Berapa banyak justru seorang ibulah yang mengantar anaknya ikut lomba-lomba kontes model umbar aurat dan bangga saat anaknya menjadi artis.*
√ *Berapa banyak justru seorang ibulah yang sengaja menyuap ke kantor-kantor supaya menerima anaknya bekerja dan bangga saat anaknya memegang jabatan yang tinggi dengan hasil yang curang.*
√ *Berapa banyak justru seorang ibulah yang dengan rasa kasihan dan tidak teganya enggan membangunkan anaknya untuk sholat Subuh dan Isya meskipun sudah baligh, tanpa berfikir bagimana nasib anaknya kelak di neraka.*
√ *Berapa banyak justru seorang ibulah yang membujuk suaminya untuk membelikan anak-anaknnya gadget laptop maupun tivi di kamar masing-masing supaya anak tidak ketinggalan informasi. Nyatanya benda-benda tersebutlah yang menjadi jalan anaknya mengenal pornografi dan kecanduan game.*
√ *Berapa banyak justru seorang ibulah yang lebih senang mengajarkan anaknya nyanyian-nyanyian dan tarian-tarian dibanding khusus mengajarkan lafadz-lafadz Qur'an dan bangga saat anaknya masih kecil fasih meniru-niru lirik dan gerakan orang dewasa.*
√ *Berapa banyak justru seorang ibulah yang menjejali anaknya dengan aneka les-les pengetahuan dunia tapi enggan mengajarkan perkara shalat, ngaji dan ibadah lain pada anak-anaknya dan bangga anaknya menjadi orang "bergelar" tapi bahkan ga tau doa masuk wc.*
√ *Berapa banyak justru seorang ibulah yang mendoakan anaknya supaya jadi orang yang berguna bagi umat tapi saat ujian mencari-cari bocoran jawaban UN untuk anaknya, atau bangga jika anaknya lulus meskipun dia sadar telah melakukan kecurangan.*
√ *_Dan "Kejahilan-kejahilan" lainnya seorang ibu yang dilakukan karena minimnya agama._*
_*Anak-anak itu amanah.*_
√ *Hanya boleh dididik sesuai keinginan "Yang Menitipkan"..*
*Bukan sesuai hawa nafsu kita..*
√ *Rem hawa nafsu kita yang sifatnya duniawi..*
*Ingat untuk apa kita dan anak-anak kita diciptakan..*
√ *Dan kelak pasti semua kembali pada kita.*
√ *Hisab detail akan apa yang telah kita ajarkan.*
√ *Kebaikan akan kembali,keburukan akan kembali.*
√ *Perbanyak istighfar..Belajar dan kaji ilmu agama..*
√ *Jadikan Al-Qur'an dan Hadits sebagai pedoman hidup..*
√ *Amalkan dan ajak seisi rumah mengamalkannya juga..*
√ *Kita tidak bisa lolos dari hisab dengan alasan, "Maaf saya ga tau kalo harus mengajari ini itu",*
*karena perintah menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.*
√ *Tidak terhenti saat kita menikah, tidak terhenti saat kita jadi nenek kakek, terus sampai kita meninggal.*
√ *Jadikan diri kita setiap harinya mencari ilmu.*
√ *Ada rasa ingin tau yang besar terhadap hukum-hukum Islam*
*Bukan untuk mendebat dan merasa paling tau, tapi untuk diamalkan dalam hidup kita sehari-hari.*
√ *#Sebagai bahan muhasabah diri..*
*Semoga bermanfaat.*

Ga enakan

Coba jawab, kita lebih sering ga enakan sama manusia dibanding ga enakan sama Allah?
Kita lebih sering takut kalau sampe si fulan itu marah, tapi kita tidak takut akan bagaimana Murkanya Allah.
Kadang kita Ga enakan kalau ga salaman , takut dibilang sombong. Takut dibilang sok alim, sok suci dll. padahal rasulullah sudah melarang kita untuk tidak bersalaman dengan non mahram.
Ga enakan ga dateng karna diundang tahlilan, ga enak nih kalau ga ngucapin ulangtahun ke dia...ga enak ni diundang ulangtahun,dan acara adat/tradisi lainnya yang tidak ada dalam islam.kita lebih sering takut ga enakan sama manusia, takut sama manusia..tapi tidak takut sama Allah.
Kita suka ga enakan sama si bos dan perusahaan hanya karna kita pengen berhijab syarie, pengen manjangin jenggot,atau pengen isbal. Kita lebih takut sama manusia dibanding sama Allah azza wa jala. Kita lebih taat sama peraturannya si bos dibanding peraturannya Allah. padahal seperak pun uang yang kita dapat dari Allah, rezeki seperak pun ga akan pindah kalau emang itu milik kita. *
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat. Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan).” (HR. Bukhari no. 7145 dan Muslim no. 1840)
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamjuga memperingatkan, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 1: 131. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)
Sekalipun itu orangtua kita sendiri yang menyuruh kita untuk menyembah berhala, maka tidak ada ketaatan lagi disana.Taat boleh tapi tidak untuk menabrak hukum Allah.
Bersabarlah teman...taat dan istiqomahlah.
buang jauh perasaan ga enakan sama manusia , kalau itu harus membuat Allah murka.
Bersabarlah teman .. waktu kita di dunia tidak lah lama.. dimusuhi manusia karena lebih taat pada Allah cuma sebentar aja..hitungan dunia hanya sekejap mata dibanding kehidupan akhirat yang lebih baik dan kekal. Demi menggapai ridhoNya dan surga firdausNya. aamiin

Madu dan semut


Setetes madu jatuh di atas tanah
🐜Datanglah seekor semut kecil, perlahan-lahan dicicipinya
madu tersebut.
🐜Hmmm... manis.
Lalu dia beranjak hendak pergi.
🐜Namun rasa manis madu sudah terlanjur memikat hatinya.
Dia pun kembali untuk mencicipi lagi, sedikit saja. Setelah itu
barulah dia akan pergi.
🐜Namun, ternyata dia merasa tidak puas hanya mencicipi
madu dari pinggir tetesannya.
🐜Dia pikir,
kenapa tidak sekalian saja masuk dan menceburkan diri agar
bisa menikmati manisnya,
lagi dan lagi.
🐜Maka masuklah sang semut, tepat di tengah tetesan madu.
🐜Ternyata? Badan mungilnya malah tenggelam penuh madu,
kakinya lengket dengan tanah.
🐜Dan...
Tentu saja tak bisa bergerak.
🐜Malang nian, dia terus seperti itu hingga akhir hayatnya.
Mati dalam kubangan setetes madu.
Demikianlah analogi sederhana tentang dunia dan pecinta dunia,
sebagaimana diperumpamakan dalam sebuah pepatah Arab :
ﻣﺎ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺇﻻ ﻗﻄﺮﺓ ﻋﺴﻞ ﻛﺒﻴﺮﺓ
ﻓﻤﻦ ﺍﻛﺘﻔﻰ ﺑﺎﺭﺗﺸﺎﻑ ﺍﻟﻘﻠﻴﻞ ﻣﻦ
ﻋﺴﻠﻬﺎ ﻧﺠﺎ
ﻭﻣﻦ ﻏﺮﻕ ﻓﻲ ﺑﺤﺮ ﻋﺴﻠﻬﺎ
"Hakikat apa-apa dari kenikmatan dunia melainkan bagai setetes
besar dari madu. Maka siapa yang hanya mencicipinya sedikit, ia akan selamat. Namun siapa yang menceburkan diri ke dalamnya, ia akan binasa."

Fokus

Seorang wanita berbincang dgn seorang ustadzah:
"Ustadzah, saya tidak mau ikut pengajian ini lagi"
"Apa alasannya?", tanya ustadzah.
"Saya lihat di pengajian ini perempuannya suka bergosip, laki²nya munafik, pengurusnya cara hidupnya tdk benar, jama'ahnya sibuk dg hpnya, dsb"
"Baiklah. Tapi sebelum kau pergi, tolong lakukan sesuatu untukku. Ambil segelas penuh air dan berjalanlah mengelilingi dalam masjid ini tanpa menumpahkan setetes air sekalipun ke lantai. 
Setelah itu engkau bisa meninggalkan masjid ini seperti keinginanmu."
"Itu mudah sekali!"
.
Diapun melakukan apa yg dimintakan ustadzah, sementara pengajian sedang berlangsung. 
Setelah selesai, dia berkata kepada ustadzah, bahwa dia siap utk pergi.
"Sebelum kau pergi, ada 1 pertanyaan. Ketika kau tadi berjalan keliling dalam masjid, apa engkau mendengar orang bergosip, melihat orang munafik, melihat orang sibuk dg hpnya?"
"Tidak."
"Engkau tau mengapa?"
"Tidak."
"Karena engkau fokus pada gelasmu, memastikan tidak tersandung dan tidak ada air yg tumpah."
.
Begitupun dgn kehidupan kita. 
Ketika kita mengarahkan pandangan kita kepada Allah SWT yg kita imani, maka :
• Kita tidak akan punya waktu untuk melihat kesalahan orang lain.
• Kita tidak akan punya waktu untuk menilai dan mengkritik orang lain.
• Kita tidak akan punya waktu untuk bergosip ria dengan orang lain.
• Kita akan menolong orang lain dan fokus pada langkah kita menggapai ridhoNya."
.

Larangan sujud menghamparkan lengan ke lantai



Larangan Menghamparkan Tangan Seperti Binatang Buas.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ وَلَا يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ
Dari Anas bin Malik, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Seimbanglah di dalam sujud, dan janganlah seseorang dari kamu menghamparkan kedua lengannya sebagaimana terhamparnya (kaki) anjing”. [HR al-Bukhâri, no. 822, dan Muslim, no. 493].
Hadits ini merupakan dalil larangan menghamparkan dua lengan pada waktu sujud, yaitu meletakkan dua lengan di tanah (lantai atau tempat sujud, Pen). Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan untuk mengangkat dua lengan (ketika sujud), sedangkan yang diletakkan di tanah adalah dua tapak tangannya. Orang yang shalat dilarang melakukan itu, karena keadaan itu adalah keadaan atau sifat orang yang malas. Sementara orang yang sedang shalat dituntut berada dalam keadaan paling bersemangat dan menghindakan diri dari semua keadaan yang menimbulkan kemalasan dalam semua rukun-rukun shalat. Disamping juga, keadaan itu menyerupai binatang buas dan anjing. Adalah suatu yang tidak pantas bagi manusia yang telah dimuliakan dan diutamakan oleh Allâh Azza wa Jalla menyerupai binatang, apalagi dalam keadaan shalat.
Sumber: https://almanhaj.or.id/4094-larangan-menyerupai-binatang-dalam-shalat.html