Sabar

Sabar yang menjadikan seseorang mendapatkan ganjaran pahala adalah sabar ketika di awal musibah dan inilah yang dinamakan sabar sebenarnya.
Alloh Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar sajalah yang akan dipenuhi pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Alloh Ta’ala berfirman:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (QS. Al-Baqoroh: 155)
Dari Shuhaib bin Sinan rodhiallohu anhu dia berkata: Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Salam bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ
سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin, sungguh semua urusannya baik baginya, yang demikian itu tidaklah dimiliki seorang pun kecuali hanya orang yang beriman. Jika mendapat kebaikan (kemudian) ia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya, dan jika keburukan menimpanya (kemudian) ia bersabar, maka itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)
Dari Ibnu Umar rodhiallohu anhuma dia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الْمُؤْمِنِ
الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
“Orang mukmin yang berbaur (berinteraksi) dengan manusia dan bersabar atas perbuatan buruk mereka, lebih besar pahalanya daripada seorang mukmin yang tidak berbaur (berinteraksi) dengan manusia dan tidak sabar atas tindakan buruk mereka.” (HR. At-Tirmizi no. 2507, Ibnu Majah no. 4022, Al-Albani, Shohih)
Sabar adalah perbuatan menahan jiwa dari berkeluh kesah dan jengkel terhadap takdir Alloh, menahan lisan dari berkeluh kesah, marah, dan ucapan lain yang menunjukkan dia tidak menerima takdir Alloh, serta menahan anggota tubuh dari amalan lain yang menunjukkan dia tidak ridho terhadap takdir dari Alloh kepada dirinya.

Waspadailah terhadap dosa dosa kecilmu

Saudaraku Muslim, sadarilah bahwa Kita telah memasuki zaman akhir yang penuh dengan pengaruh kemaksyiatan yang semakin merajalela dan bertebaran di mana-mana dan tanpa kita sadari keseharian kita pun bercampur aduk dengan hal-hal yang mengakibatkan dosa.  Misalnya pada saat kita berkendara di jalan raya, tidak sengaja kita melihat seorang pengendara wanita yang tidak terjaga auratnya, pornografi yang kadang nyelonong di smartphone, berjabat tangan dengan yang bukan mukhrim di tempat kerja, obrolan yang berakhir dengan gunjingan, kata-kata makian yang terucap seiring dengan kejengkelan hati dan masih banyak dosa-dosa yang kadang kita anggap remeh.  Padahal empat belas setengah abad yang lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah mengingatkan kita, dalam sebuah riwayat :


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ .رواه احمد

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah kalian meremehkan dosa-dosa kecil karena hal itu dapat terkumpul pada diri seorang laki-laki sehingga merusak/membinasakan padanya.” [HR.Ahmad]

Seperti dalam sebuah kiasan, orang terpeleset hanya karena kulit pisang, orang tersandung hanya karena batu yang kecil (bukan tersandung gunung), orang kelilipan hanya karena debu/pasir yang halus, namun hal tersebut  menyakitkan.

Taukah saudaraku muslim bahwa, dosa kecil yang kita anggap remeh ternyata akan membekas dan menitik hitam di hati kita, di jelaskan dalam sebuah riwayat :

عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُاللَّهُ فِي كِتَابِهِ

       {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

(رواه سنن ابن ماجه في كتاب الزهد حسن)

Dari Al Qa’qa’ bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya apabila seorang mukmin berbuat dosa, maka akan ada titik hitam di dalam hatinya, jika ia bertaubat meninggalkannya serta meminta ampun maka hatinya akan kembali putih. Namun jika ia menambah (dosanya) maka akan bertambah (titik hitam), demikian itulah (الرن/Arron) yang di sebutkan dalam firman Allah dalam kitab-Nya; “

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Ingatlah bahwa noda hitam pada hati mereka karena apa-apa yang mereka lakukan (dosa yang mereka lakukan)” (QS Al Muthafifin; 14). [HR.Sunan Ibnu majah]

Hati yang tertutup akan sulit menerima hal-hal yang baik, yang berakibat semakin mengering nilai-nilai Iman dalam hati.
Allah berfirman :

خَتَمَ اللَّهُ عَلٰى قُلُوبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلٰىٓ أَبْصٰرِهِمْ غِشٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.[QS. Al-Baqarah: Ayat 7]

Berkacalah Siapakah diri kita..?!

عَنْ الْحَارِثِ بْنِ سُوَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ حَدِيثَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ عَنْ نَفْسِهِ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا قَالَ أَبُو شِهَابٍ بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ….رواه البخاري

Dari Al Harits bin Suwaid telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Mas’ud mengenai dua hadits, salah satunya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan yang lain dari dia sendiri, dia berkata; “Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal gunung, ia khawatir gunung itu akan menimpanya, sedangkan orang fajir (selalu berbuat dosa) melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menempel di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang.” Abu Syihab mengisyaratkan dengan tangannya di atas hidungnya. [HR.Bukhory]

Ingatlah..!
Jika hati selalu gelisah dengan perbuatan dosa sekecil apapun yang telah kita lakukan, maka keimanan yang akan  mendominasi diri. Namun jika hati tidak  gelisah bahkan cenderung tidak merasa berakibat, ketika dosa kecil telah terbuat, maka kefajiran telah menjadi penguasa dalam diri.

© Ust.H. Noer Hidayatulloh (H.Arofah Almubarok)

Auratmu

MENUTUP aurat merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan untuk seorang muslim, terlebih muslim yang sudah baligh.
Sebagian orang beranggapan bahwa yang terbuka auratnya menjadikan seseorang terlihat seksi dan bagus. Namun bagi Allah & Rasul-Nya anggapan seperti itu sudah dikategorikan sbg muslim yang tidak beriman.
Contoh halnya wanita sering membanggakan mahkota kepala atau rambutnya, wanita juga lebih senang melihatkan kulitnya yang putih dan bersih sebagai kepercayaan diri untuk tampil sebagai seorang yang cantik.
Namun itu semua hanya kecantikan sementara yang akan menghilang ketika kita sudah berada pada usia tua atau lansia. Pilihan seseorang untuk menutup aurat atau pun tidak, kembali kepada keimanannya masing-masing.
Lelaki muslim sepatutnya menutup aurat dari bagian lutut sampai pusar, sedangkan bagi wanita menutup aurat dari bagian kepala sampai ujung kaki kecuali wajah dan telapak tangan.
Adapun bagian-bagian yang harus diperhatikan dalam menutup aurat (bagi wanita), di antaranya :
1. Bulu Kening.
Imam Bukhari: Rasulullah melaknat perempuan yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu keningnya.” (Riwayat Abu Daud Fi Fathul Bari.)
2. Kaki (tumit kaki).
“Dan janganlah mereka (perempuan) menghentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS: An-Nur: 31)
3. Wewangian.
“Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zina.” (Riwayat Nasaii, Ibnu Khuzaimah dan Hibban)
4. Dada.
“Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi dada-dada mereka.” (QS: An-Nur:31)
5. Gigi.
“Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya.” (Riwayat At-Thabrani)
“Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang mengubah ciptaan Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
6. Muka dan Tangan.
Asma Binti Abu Bakar telah menemui Rasulullah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasulullah: “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menunjukkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja.” (Riwayat Muslim dan Bukhari).
7. Tangan.
“Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh lawan jenis yang tidak halal baginya (Bukan mahram).” (Riwayat At Tabrani dan Baihaqi).
*Hadits inipun termasuk larangan berjabat tangan dg Lawan jenis yg bukan mahromnya.
8. Mata.
“Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebagian dari pandangannya.” (QS: An-Nur : 31)
Sabda Nabi Muhammad SAW: “Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pandangan yang pertama, pandangan seterusnya tidak dibenarkan.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).
9. Mulut (suara).
“Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak/lembut dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik.” (QS: Al Ahzab: 32)
Sabda Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya akan ada umatku yang minum arak yang mereka namakan dengan nama yang lain, Yaitu kepala mereka dilalaikan oleh bunyi-bunyian (musik) dan penyanyi perempuan, maka Allah akan tenggelamkan mereka itu didalam bumi.” (Riwayat Ibnu Majah).
* Suara wanita adalah aurat, maka wanita kalo berbicara ya sewajarnya saja, jgn dg nada yg mendesah syahdu yg bs menimbulkan syahwat bagi laki2
10. Kemaluan.
“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka. “(QS: An-Nur : 31).
“Apabila seorang perempuan itu sholat lima waktu, puasa dibulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam syurga melalui pintu-pintu yang ia kehendaki.” (Riwayat Al Bazzar).
“Tiada seorang perempuan pun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah.” (Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah).
11. Pakaian.
“Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan dihari akhirat nanti.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, An Nasaii dan Ibnu Majah)
“Sesungguhnya beberapa ahli neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
“Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju panjang dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali. Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: Al Ahzab : 59)
12. Rambut.
“Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya didalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya dari penglihatan lelaki yang bukan mahramnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Begitulah bagian-bagian yang harus diperhatikan oleh kita selaku muslim, agar tetap dalam keteguhan Islam, dan kita tidak termasuk ke dalam golongan ahli neraka.
الحمدلله،جزا كم الله خيرا

Pin : Doa ketika sakit


Islam memandang wanita


Seorang pria Inggris datang ke seorang Sheikh dan bertanya:
Mengapa tidak diperbolehkan dalam Islam bagi perempuan
untuk berjabat tangan dengan seorang pria?
Sheikh menjawab: Dapatkah Anda berjabat tangan dengan
Ratu Elizabeth?
Orang Inggris berkata: Tentu saja tidak, hanya ada orang-
orang tertentu yang bisa berjabat tangan dengan Ratu Elizabeth
Sheikh menjawab: Wanita kami adalah ratu dan ratu tidak
berjabat tangan dengan laki-laki asing.
Kemudian pria Inggris bertanya lagi: Mengapa gadis-gadis muslim
menutupi tubuh mereka dan rambutnya?
Sang Sheikh tersenyum dan mengambil dua permen, ia membuka yang
pertama dan yang lain dibiarkan terbungkus. Dia melemparkan
keduanya di lantai berdebu dan bertanya pd orang Inggris itu:
Jika saya meminta Anda untuk mengambil salah satu permen,mana yang akan Anda pilih?
Orang Inggris menjawab:
Tentu saja yang tertutup.
Sheikh mengatakan:
Itulah cara kami melihat wanita di islam.
Dengan pakaian menutupi aurat, derajat perempuan islam lebih baik daripada tidak tertutup.
***
Sampaikan kepada yang lain…
Rosululloh SAW bersabda yang artinya:
“Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim

Hukum mengadopsi anak

 Hukum Mengadopsi Anak
Adopsi artinya pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri, dalam bahasa Arab disebut At-tabanni. Pada tataran praktis ada dua macam pengangkatan anak (adopsi).

Pertama, mengambil anak orang lain untuk diasuh dan dididik dengan penuh perhatian dan kasih sayang tanpa diberi hak-hak sebagai anak kandung, ia hanya diperlakukan oleh orang tua angkatnya seperti anak sendiri. Para ulama sependapat mengadopsi anak dengan cara seperti ini tidak dilarang oleh agama, bahkan kalau dilakukan dengan niat yang ikhlas akan menjadi amal shaleh.

Kedua, mengambil anak orang lain sebagai anak sendiri serta diberi hak-hak sebagai anak kandung, sehingga ia memamakai nama keturunan (nasab) orang tua angkatnya, saling mewarisi harta peninggalan, serta hak-hak lainnya persis seperti anak kandungnya.

Cara seperti ini hukumnya haram sebagaimana difirmankan Allah swt., “…dan tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanya perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka panggillah mereka sebagai saudara-saudaramu seagama…” (QS. Al Ahzab 33:4-5)

Para ahli tafsir menyebutkan, awalnya ayat ini berkaitan dengan kasus anak angkat Rasul saw. yaitu Zaid bin Haritsah. Kata imam Al-Qurthubi, sebelum kenabian, Rasulullah saw. pernah mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi anak angkatnya, beliau tidak memanggil Zaid dengan nama ayahnya (Haritsah) tetapi ditukar dengan nama Zaid bin Muhammad.

Pengangkatan Zaid sebagai anaknya diumumkan Rasulullah saw. di depan kaum Kuraisy. Nabi saw. juga menyatakan bahwa dirinya dan Zaid saling mewarisi. Setelah Rasulullah saw. diangkat menjadi Rasul, turunlah surat Al Ahzab ayat 4-5 ini, yang salah satu intinya melarang pengangkatan anak seperti diatas (saling mewarisi dan memanggilnya sebagai anak kandung).

Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa kisah di atas sebagai latar belakang turunnya ayat tersebut. Berdasarkan analisis di atas, apabila kita mengadopsi anak orang lain untuk dicintai, diasuh, dididik, dibesarkan sebagaimana membesarkan anak sendiri, dan tidak memutuskan silaturahmi dengan orang tua kandungnya, serta tetap diberi status sebagai anak angkat, hukumnya mubah (boleh) bahkan bernilai ibadah kalau dilakukan dengan ikhlas lillahi ta’ala.

Namun, jika kita mengadopsinya dengan memberi status sebagai anak kandung yang bisa saling mewarisi, bahkan memutuskan silaturahmi dengan orang tua kandungnya (dirahasiakan siapa orang tua kandungnya), hukumnya haram. Persoalan sensitif yang sering terjadi dalam kasus adopsi adalah masalah warisan. Menurut hukum Islam, antara anak angkat dan orang tua tidak bisa saling mewarisi.

Alasannya, menurut para ahli hukum Islam ada tiga sebab seseorang bisa saling mewarisi. Pertama, al-qarabah (seketurunan/hubungan darah), kedua, al-mushaharah (karena hasil perkawinan yang sah), dan ketiga al-‘itqu (hubungan perwalian antara hamba sahaya dan wali yang memerdekakannya).

Status anak angkat tidak masuk pada salah satu dari tiga sebab ini, maka disimpulkan bahwa anak angkat tidak bisa saling mewarisi dengan orang tua angkatnya. Anak angkat bisa menerima harta dari orang tua angkatnya melalui dua cara.

Pertama, melalui hibah, yaitu pemberian mutlak dari orang tua angkat kepada anak angkat sehingga harta yang dihibahkan menjadi milik mutlak anak angkatnya. Jumlah hibah tidak dibatasi, berapapun bisa dihibahkan asal tidak menimbulkan kecemburuan dari keluarga lainnya, artinya harus bersikap adil. Kedua, melalui wasiat, yaitu pesan penyerahan/pemberian harta secara sukarela dari seseorang kepada pihak lain (dalam konteks ini orang tua angkat kepada anak angkatnya) yang berlaku setelah orang itu wafat. Jadi, wasiat itu baru berlaku kalau orang yang berwasiatnya sudah wafat.

Adapun jumlah wasiat, Para ulama sepakat berdasarkan hadits Nabi saw. bahwa batas maksimal harta yang boleh diwasiatkan adalah sepertiganya. Persoalan berikutnya menyangkut nama nasab dalam akte kelahiran atau ijazah. Banyak kasus, orang tua angkat menggantikan nama orang tua kandung anak angkatnya. Misalnya, kita punya anak angkat bernama Yayat, nama orang tua kandungnya Hidayat, sedangkan orang tua angkatnya bernama Kusnadi.

Seharusnya di akte kalahiran Yayat bin Hidayat, karena Hidayat ayah kandungnya. Namun kenyataannya, namanya menjadi Yayat bin Kusnadi. Nah, cara seperti ini dilarang dalam Islam seperti diterangkan pada ayat di atas. Bagaimana kalau sudah telanjur? Bertaubat saja kepada Allah.Bukankah Allah swt. itu Maha Pengampun dan Penerima taubat? Bila anak angkat sudah dewasa, kita sebagai orang tua angkat harus berani menjelaskan duduk persoalannya kepadanya agar terhindar dari murka Allah.

Lalu, bagaimana kalau tidak diketahui ayah kandungnya padahal nama ayah harus tercantum di akte kelahiran atau ijazahnya? Kalau kasusnya seperti ini, nggak masalah nama ayah angkatnya tercantum dalam akte. Namun tetap, suatu saat kalau anak itu sudah dewasa harus dijelaskan bahwa dia adalah anak angkat. Memang akan menyakitkan bagi anak dan orang tua angkat, namun inilah ketentuan Allah swt. yang harus kita laksanakan.

Kesimpulannya, kita diperbolehkan mengadopsi anak untuk ikut mencintai, mendidik, dan membesarkannya dengan tidak memutuskan hubungan silaturrahmi dengan orang tua kandungnya, serta tetap menempatkannya sebagai anak angkat dalam hak waris, nasab, dll., dan haram mengadopsi anak dengan memberikan hak-hak anak kandung kepadanya. Wallahu a’lam.

Siapa idola kita

Pengaruh lingkungan disekitar kita begitu hebatnya, baik itu secara langsung maupun tidak langsung sangat nyata kita rasakan, didalam mengidolakan seseorangpun anak anak kita khususnya harus perlu diperhatikan dan dinasehatkan supaya mengidolakan orang orang yang sholih yang betul betul menjadi qudwah (teladan) dalam kehidupannya.
Kekaguman kepada seseorang biasanya akan diikuti dengan meniru sikap, tingkah laku yang dikaguminya. Apabila yang ditiru ialah orang-orang yang sholih yang menjadi teladan maka keberuntungan kita. Namun apabila yang ditiru ialah kaum fasiq (suka berbuat dosa), kaum kafir, maka berarti musibah bagi kita.
Perhatikanlah sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tentang perilaku apa yang kiranya akan dilakukan oleh umat ini. Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu menyebutkan bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَتَتْبَعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ » . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »
“Sungguh kalian akan mengikuti (perlakuan) orang yang sebelum kalian, sejengkal sejengkal, dan sehasta demi sehasta, sehingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak sekalipun tentu kalian tetap mengikuti mereka.” Kami bertanya : “Wahai Rosululloh, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa (kalau bukan mereka)?”
Padahal Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengancam dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Siapa saja yang menyerupakan diri dengan suatu kaum maka ia termasuk dari kaum itu.”
Perhatikanlah apa yang dikisahkan oleh seorang sahabat yang mulia, Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Suatu saat dia pernah berkata: “Datanglah seorang laki-laki kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rosululloh, kapan kiranya akan tegak hari kiamat?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang telah kau persiapkan untuk menyambut kiamat?” Dia menjawab: “Kupersiapkan kecintaanku kepada Alloh dan kepada Rosul-Nya”. Lalu beliau pun bersabda:
فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Sesungguhnya kau akan bersama siapa yang kau cinta.”
Kemudian Anas radhiyallahu anhu mengatakan : “Kami (para sahabat) tidaklah pernah merasa gembira setelah keislaman kami dengan kegembiraan sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya kau akan bersama siapa yang kau cinta”. Anas radhiyallahu anhu pun mengatakan, “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka”.
Bila seseorang akan dikumpulkan bersama siapa yang dipuja dan dicinta, maka bagaimana kiranya nasib orang-orang yang mencinta dan mengagungkan kaum fasik dan orang-orang kafir lagi durhaka ?
Semoga manfaat dan barokah

Keutamaan memiliki anak perempuan

ه عليه وسلم " مَنِ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنَ الْبَنَاتِ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ " . (سنن الترمذي)
[قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ] .
Telah menceritakan kepada kami Al Ala` bin Maslamah Al Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Abdul Aziz dari Ma'mar dari Az Zuhri dari Urwah dari 'Aisyah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang diuji dengan tiga orang anak wanita lalu ia bersabar atasnya, niscaya ketiganya akan menjadi hijab baginya dari api neraka." (HR Sunan At-Tirmidzi)
[Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan]
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَزِيرٍ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، هُوَ الطَّنَافِسِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ الرَّاسِبِيُّ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ دَخَلْتُ أَنَا وَهُوَ الْجَنَّةَ كَهَاتَيْنِ " . وَأَشَارَ بِأَصْبُعَيْهِ . (سنن الترمذي)
[قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ . وَقَدْ رَوَى مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ غَيْرَ حَدِيثٍ بِهَذَا الإِسْنَادِ وَقَالَ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ وَالصَّحِيحُ هُوَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَنَسٍ ]
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Wazir Al Wasithi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid Ath Thannafisi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Aziz Ar Rasibi dari Abu Bakr bin Ubaidullah bin Anas bin Malik dari Anas ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang memelihara dua orang anak wanita, maka aku dan ia akan masuk ke dalam surga seperti kedua (jari) ini." Beliau sambil memberi isyarat dengan kedua jari telunjuknya. (HR Sunan At-Tirmidzi)
[Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan gharib. Dan Muhammad bin Ubaid telah meriwayatkan dari Muhammad bin Abdul Aziz selain hadits ini dan dengan isnad ini dan ia menyebutkan; Dari Abu Bakr bin Ubaidullah bin Anas. Yang shahih, ia adalah Ubaidullah bin Abu Bakr bin Anas].
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ دَخَلَتِ امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ فَدَخَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم " مَنِ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ " . (سنن الترمذي)
[هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ]
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Ibnu Syihab, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Bakr bin Hazm dari Urwah dari Aisyah ia berkata; Seorang wanita masuk menemuiku bersama dengan dua orang anak wanitanya, lalu wanita itu meminta, namun ia tidak mendapatkan sesuatu dariku kecuali kurma. Kemudian aku pun memberikan kurma itu padanya, lalu wanita itu membagikannya pada kedua anak wanitanya, sedang ia sendiri tidak memakannya. Kemudian wanita itu berdiri dan keluar. Sesudah itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk dan akupun langsung mengabarkan hal itu pada beliau, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang diuji lantaran memelihara anak-anak wanita ini, maka mereka akan menjadi tameng baginya dari api neraka." (HR Sunan At-Tirmidzi)
[Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih].

Mensikapi keburukan

“ Hei itu anak malu-maluin keluarga, hamil duluan, bagaiman mendidiknya yach…dst “. Kata si Ibu menceritrakan pengalaman buruknya mencaci orang, “ Eeeh kejadian sama anak saya…hehe ia tersenyum getir “. Mengapa demikian yah? . Mari kita lihat dari hukum tarik menarik (law attraction) yang dibahas panjang lebar oleh Charles F Haanel dalam” Master Key” satu abad yang lalu, menurutnya apa yang kita perhatikan (konsentrasikan) akan tertarik ke diri kita. Tanda memperhatikan itu salah satu tandanya adalah membicarakannya, karena kata dan kalimat adalah wujud dari pikiran, sedangkan pikiran mempunyai sifat yang kreatif untuk mengkristalkan menjadi apa yang dipikirkan. Menurutnya yang utama dan pertama adalah berpikir baik dan benar dulu, implikasi dan pengalaman akan hadir pada diri kita adalah akibat. Sulit dipercaya namun kata Haanel sekali Anda percaya hidupun akan berubah demikian kata Haanel. Haanel telah membuktikannya apa yang ia tulis, baik dalam pengalamannya sendiri sebagai pengusaha sukses, maupun pengalaman orang-orang sukses lainnya. Tulisan Haanel menginpirasi para penulis besar lainnya Napoleon Hill, Rhonda Byrne dll. Ia memberikan formula bahwa kita dapat mengusakan penyebab dari pengalaman yang akan didapatkan.
Lalu bagaimana jika kita melihat, mendengar keburukan tidak direspons dibicarakannya, berkonsentrasi pada perbaikannya, contoh, “ tidak demontrasi anti perang, tapi demontrasi perdamaian”. Bukan menyudutkan orang yang bermaksiatnya, berbicara yang benarnya bagaimana, cara memperbaikinya bagaimana, bagaimana caranya agar menjadi pahala dari kesalahan, baru kemudian tobat menjadi alternative pertama agar kesalahan menjadi pahala, kemudian memandang kedepan untuk lebih baik lagi. Format pikiran untuk sedapat mungkin tidak memandang kesalahan dari sisi negatifnya saja, hingga ide-ide akan bermunculan untuk hal yang positif memberikan jalan untuk bersikap dan melakukannya. Kebiasaan tidak baik yang tampak sekali bagi tanggapan pada orang yang melakukan kesalahan adalah mebicarakan (ngrasani atau ngerumpi) media social dan elektronik memfasilitasinya, ada pihak-pihak yang memanasinya dan mencari keuntungan dari itu. Mungkin tidak merespons sama sekali lebih baik dari pada menyudutkannya.
Merespon peristiwa buruk dengan cara lembut suatu respon yang diajarkan Rosululloh SAW, sebagaimana hadis berikut ini : “Tidaklah sikap lemah lembut dalam sesuatu melainkan membuatnya indah. Dan tiadalah sikap kasar dalam sesuatu melainkan membuatnya buruk.” (HR Muslim dan Ibnu Majah). Mungkin untuk jenis kemungkaran yang kondisinya makar cara mensikapinya hadis berikut: Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).
Dibawah ini adalah hadis terkait dengan tema tulisan di atas sbb:
1. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam. (HR. Bukhari)
2. Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia. (HR. Ad-Dailami) Moga bermanfaat.
3.“Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain adalah ibarat satu tubuh,
Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur ” (HR. Bukhari)
4. “Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim lainnya.
Tidak boleh menganiaya ataupun. Membiarkan dianiaya. Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya maka Alloh akan memenuhi kebutuhan nya.
Barang siapa membebaskan kesusahan nya,maka Alloh akan membebaskan kesusahan nya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib nya, maka Alloh akan menutupi aib nya dihari kiamat ”

Khusus untuk para istri

Hindari beberapa Hal ini agar tetap disayang suami...
(Muhammad Hafizh Alkayyis)
Sepuluh perilaku istri yang harus dihindari.
1. Tidak bersyukur.
Tidak pernah merasa puas dan tidak bersyukur dengan pemberian suami, lebihi-lebih suka mengeluh, maka sifat seperti ini dibenci suami, dibenci oleh para penghuni langit dan bahkan dibenci oleh Allah subhanhu wata'ala
Dalam Sebuah hadits Rasulullah bersabda:
َأُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ ، قَالُوا : بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : بِكُفْرِهِنَّ ، قِيلَ : يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ ، قَالَ : يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ (رواه البخاري، رقم 1052) .
“Saya diperlihatkan neraka. Saya tidak pernah melihat pemandangan seperti hari ini yang sangat mengerikan. Dan saya melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita. Mereka bertanya, ‘sebab apa wahai Rasulallah? Beliau bersabda, ‘Dikarenakan kekufurannya.' Lalu ada yang berkata, 'Apakah mereka kufur kepada Allah?' Beliau menjawab, ‘mereka mengkufuri suami dan mengkufuri kebaikan, Jika kamu telah berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang tahun, kemudian dia melihat(sedikit ) kejelekan ada pada dirimu. Maka dia (istri) akan mengatakan, ‘Saya tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun dari kamu” (HR. Bukhari, no. 1052)
2. Tidak Taat pada suami dan suka membantah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS An Nisa ayat 34)
Suami adalah pemimpin rumah tangga , Tidak ada fungsi pemimpin kalau tidak ditaati dan tidak dihormati. Salah satu bukti ketaatan istri adalah dengan menaati perintah suami asal tidak berlawanan dengan syari'at (al-qur'an dan al-hadits) dan tidak membantah ucapan suami.
3. Hobby menyalahkan dan mengkritik suami.
Mencari kambing hitam alias suka menyalahkan adalah perbuatan yang menjengkelkan.
Maka wajar jika suami melakukan kesalahan karena ia adalah seorang manusia biasa, usahakan bertutur kata yg lembut dalam mengingatkan dan jangan mencari-cari kesalahan suami
Rasulullah melarang kita untuk tidak mencari-cari kejelekan orang lain, lebih2 suami
:
وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا
Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [HR. Bukhari dan Muslim]
4. Suka menyuruh dan mengatur.
Hindari menyuruh atau mengatur suami, kalau memang ingin meminta bantuannya, maka lakukan dengan ucapan yang baik dan santun, awali kata2 minta maaf atau minta tolong,
Langkah ini akan menetralisir kemarahan suami dan menjaga wibawa suami.
Juga, suami yang sering diatur dan disuruh-suruh oleh istrinya terkesan suami yang kalah dan takut istri, kalau persepsi ini terjadi, maka yang buruk di mata publik adalah keduanya.
Sedangkan rasulullah sendiri bersabda :
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Andai aku memerintah seseorang sujud kepada yang lain, tentu akan aku perintahkan wanita sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi no. 1159)
Ini bukan karena merendahkan hak istri, tp karena saking besarnya kewajiban yg diemban oleh suami.
5. Suka membandingkan dg rumah tangga orang lain.
membandingkan dengan rumah tangga lain. Suami akan sangat tersinggung apabila istri suka membanding-bandingkannya dengan pria atau tetangga sebelah yang memiliki pencapaian lebih tinggi secara materi atau hal lain seperti pencapaian anak,
Ketahuilah, jika anda dikalahkan dengan harta benda dan keduniawian maka kalahkan mereka dalam hal akhirat,
كان الحسن البصري رحمه الله يقول : إذا رأيت الرجل ينافس في الدنيا فنافسه في الآخرة
Adalah Hasan Albashri rahimahullah berkata : ketika kamu melihat seseorang yang mengalahkanmu pada hal keduniaan maka kalahkan dia dalam hal akhirat. (Azzuhud karya Imam ahmad)
Maka ubahlah peribahasa "Rumput tetangga selalu nampak lebih hijau" menjadi “Rumput tetangga mungkin lebih hijau, tapi buah di kebun kita lebih manis”
6, Cerewet yang berlebihan
Siapa yang suka orang cerewet? Wanita cerewet itu sendiri tidak suka pada orang lain yang cerewet. Cerewet adalah perilaku yang suka meributkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Selalu menceritakan setiap sesuatu yg ia dengar dan lihat, tanpa lebih dulu melihat sebab dan akibatnya, sehingga tanpa ia sadari ia menyebarkan sesuatu yg dusta tapi ia sendiri tidak merasa
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda,
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
”Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.”
(HR. Muslim).
7, cemberut dan bermuka masam.
Terkadang, bahasa tubuh yang tidak menyenangkan seperti cemberut, dan bermuka masam itu lebih terasa efek negatifnya daripada kata-kata.
Itulah sebabnya Rasulullah bersabda:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) shadaqah bagimu“[HR. Muslim]
Setiap kebaikan tentunya bernilai pahala, termasuk tersenyum kepada suami, disamping berpahala juga menambah kasih sayang suami.
8. Meremehkan suami
Istri yang Meremehkan suami biasanya ia dicoba Allah lewat materi, bisa jadi ia lebih kaya dari suami atau pendapatannya lebih besar dari suami, atau bisa jadi dicoba karena istri lebih pandai disegala bidang dibandingkan suami, sehingga tanpa disadari, ia mengucapkan kata-kata atau berperilaku yg meremehkan suami, menganggap suami miskin, tak punya papa, bodoh dan seterusnya
Padahal rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
بِحَسْبٍ امْرِءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ * رواه مسلم
“Cukup bagi seseorang termasuk jahat bahwa dia meremehkan saudaranya yang islam.”
Maka ada istilah : Istri shalihah dicoba kesetiaanya (ketaatannya) ketika suami tidak mempunyai apa-apa.
9. Pendengar yang buruk.
Mata tidak fokus atau respons kurang nyambung atau kurang antusias saat suami bercerita atau curhat, ini merupakan sebagian tanda ciri-ciri pendengar yang buruk.
Bantulah memberi solusi yang baik, jika tidak bisa memberi solusi, cukup dengarkan curhatnya,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq alaihi)
Kalau sedang tidak ingin mendengar cerita suami, maka mintalah maaf agar suami paham kondisi yang terjadi, dan tidak terjadi salah faham
10. Selingkuh (Memiliki PIL/ Pria Idaman Lain)
Ini kesalahan terbesar yang dilakukan oleh istri, Kalau pun suami tidak menceraikan istrinya yang selingkuh, maka kemungkinan besar rasa saling percaya dan cinta sudah tidak ada lagi dari hati suami.
Padahal keluar rumah tanpa izin suami saja dilarang apalagi mempunyai selingkuhan,
وقد ذكر الحنفية أربعة مواضع يجوز فيها للزوج تأديب زوجته بالضرب ، منها : ترك الزينة إذا أراد الزينة، ومنها : ترك الإجابة إذا دعاها إلى الفراش وهي طاهرة ، ومنها : ترك الصلاة ، ومنها : الخروج من البيت بغير إذنه .
Hanafiyah menyebutkan 4 tempat dibolehkannya suami memukul (dg tdk merusak) istrinya dalam rangka mengajarinya adab, di antaranya:
1. tidak mau berhias apabila ia menghendaki istrinya berhias (dirumah)
2. tidak mau menyambut ajakan suami ketika mengajaknya ke ranjangnya padahal ia dalam keadaan suci (hubungan intim)
3. meninggalkan shalat.
4. keluar rumah tanpa seizinnya.
Beberapa dalil yang mendasari bolehnya mendisiplinkan wanita:
Firman Allah Ta'ala,
ومن الأدلة على جواز التأديب :
قوله تعالى وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ
"Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka." (QS. Al-Nisa': 34)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. Al-Tahrim: 6)
Setiap poin dari kesepuluh poin di atas akan dapat mengurangi rasa cinta dan sayang suami pada istri. Oleh karena itu, istri harus berusaha keras untuk menghindarinya sama sekali.
Kesalahan di sana sini mungkin terjadi, namun selagi masih ada usaha untuk memperbaiki diri, maka suami akan memahami, menghargai dan memaafkan kesalahan istri.

Ayat ayat penyembuh gila


Ruqiyat Terlengkap
Di antara kita masih ada yang kurang yakin dengan kedahsyatan Firman Tuhan, yakni Al-Qur’an. Padahal di langit sana, jika Allah berfirman, para malaikat sama pingsan, terkejut oleh Dahsyatnya Allah dan FirmanNya. Hanya para malaikat tertentu yang tidak pingsan. [1] Oleh karena itu hingga kapanpun, para syaitan ketakutan jika dibacakan Firman Allah. Dan karena itu pula, nabi SAW pernah membacakan beberapa Ayat Al-Qur’an, pada orang kesurupan atau gila. Fal-Chashil saat itu, orang tersebut sembuh total: المسند الجامع - (ج 1 / ص 60)
32- عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَانِ بْنِ أَبِي لَيْلَى ، حَدَّثَنِي أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ ، قَالَ كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ ، فَقَالَ : يَا نَبِيَّ اللهِ ، إِنَّ لِي أَخًا ، وَبِهِ وَجَعٌ ، قَالَ : وَمَا وَجَعُهُ ؟ قَالَ : بِهِ لَمَمٌ ، قَالَ : فَائْتِنِي بِهِ ، فَوَضَعَهُ بَيْنَ يَدَيْهِ ، فَعَوَّذَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ، وَأَرْبَعِ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ، وَهَاتَيْنِ الآيَتَيْنِ :وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ)، وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ ، وَثَلاَثِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ، وَآيَةٍ مِنْ آلِ عِمْرَانَ :شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ) ، وَآيَةٍ مِنَ الأَعْرَافِ :إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ) ، وَآخِرِ سُورَةِ الْمُؤْمِنِينَ :فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ) ، وَآيَةٍ مِنْ سُورَةِ الْجِنِّ :وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا) ، وَعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ الصَّافَّاتِ ، وَثَلاَثِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ ، وَ(قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ ، فَقَامَ الرَّجُلُ كَأَنَّهُ لَمْ يَشْتَكِ قَطُّ.
Arti (selain isnad)nya:
Nomer Hadits 32. (Hadits ini disampaikan oleh) Ubai bin Kaeb pada (seorang tabik bernama) Abdur Rohman bin Abi Laila:
“Saya pernah di sisi nabi SAW. Tiba-tiba seorang pedesaan datang untuk berkata ‘ya Nabi Allah! Sungguh saya punya saudara lelaki yang terserang penyakit’.”
Nabi bersabda, “Penyakit apa?.”
Dia menjawab, “Dia terserang lamam (hampir gila).”
Nabi perintah, “Bawa dia kemari!.”
Lelaki itu mendatangkan saudaranya di hadapan nabi SAW.
Nabi memperlindungkan lelaki tersebut pada:
1. Fatichatul-Kitab, dan empat Ayat dari Surat Al-Baqarah (dengan cara dibacakan) (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7) الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4)).
2. Dua Ayat (163 – 164 Al-Baqarah) ini: (وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ).
3. Ayat Kursi ({ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ} [البقرة: 255]).
4. Tiga Ayat terakhirnya Surat Al-Baqarah (لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (284) آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)).
5. Satu Ayat Surat Ali Imran ({شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} [آل عمران: 18]).
6. Satu Ayat Surat Al-Araf ({ إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ } [الأعراف: 54]).
7. Terakhir Surat Al-Mukminuun (فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116) وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (117) وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ (118)).
8. Satu Ayat Surat Jinn (وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)).
9. Sepuluh Ayat awal Surat Asshaffaat (وَالصَّافَّاتِ صَفًّا (1) فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا (2) فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا (3) إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ (4) رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ (5) إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ (6) وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ (7) لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَى وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ (8) دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ (9) إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ (10)).
10. Tiga Ayat akhir Surat Al-Chasyr (هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)).
11. Qul Huwallah dan Al-Muawidzatain (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5) قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)).
Berkat bacaan tersebut, lelaki itu berdiri, mutlak mirip seperti belum pernah menderita penyakit.”
[1] Rujukan uraian ini bisa dibaca di dalam ayat: حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ [سبأ/23]. Dan tafsirnya.
Ibnu Majah juga meriwayatkan demikian

Ilmu dan kepahaman agama


حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ قَالَ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ، خَطِيبًا يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ " مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ " (صحيح البخاري)
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin 'Ufair Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab dari Yunus dari Ibnu Syihab berkata, Humaid bin Abdurrahman berkata; aku mendengar Mu'awiyyah memberi khutbah untuk kami, dia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah faqihkan (pahamkan) dia terhadap agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan sedang Allah yang memberi. Dan senantiasa ummat ini akan tegak diatas perintah Allah, mereka tidak akan celaka karena adanya orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah (Hari Kiamat)"
(HR Bukhari).
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ، قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ " إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا ". قَالَ الْفِرَبْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ قَالَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامٍ نَحْوَهُ. (ضحيح البخاري)
Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Abu Uwais berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan". Berkata Al Firabri Telah menceritakan kepada kami 'Abbas berkata, Telah menceritakan kepada kami Qutaibah Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hisyam seperti ini juga.
(HR Bukhari)
أَخْبَرَنَا عُتْبَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ " مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ " . ثُمَّ يَقُولُ " بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ " . وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ يَقُولُ " صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ " . ثُمَّ قَالَ " مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضِيَاعًا فَإِلَىَّ أَوْ عَلَىَّ وَأَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ " . (سنن النسائي)
Telah mengabarkan kepada kami 'Utbah bin 'Abdullah dia berkata; telah memberitakan kepada kami Ibnul Mubarak dari Sufyan dari Ja'far bin Muhammad dari bapaknya dari Jabir bin 'Abdullah dia berkata; "Apabila Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam berkhutbah, maka beliau memuji dan menyanjung Allah dengan hal-hal yang menjadi hak-Nya, kemudian bersabda: 'Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Sebenar-benar perkataan adalah kitabullah (Al Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka'. Kemudian beliau bersabda lagi, 'Ketika aku diutus, jarak antara aku dan hari Kiamat seperti jarak dua jari ini' (Nabi isyaroh dg menempelkan Jari Telunjuk & Jari tengahnya). Bila beliau menyebutkan hari Kiamat maka kedua pipinya memerah, suaranya meninggi, dan amarahnya bertambah, seolah-olah beliau memperingatkan pasukan. Beliau bersabda: 'Hati-hati pada pagi kalian dan sorenya'. Barangsiapa meninggalkan harta, maka itu buat keluarganya dan barangsiapa meninggalkan utang atau sesuatu yang hilang maka itu tanggunganku. Aku adalah wali bagi orang-orang yang beriman '." (HR An Nasa'i).

Cobaan

Kadang orang melihat orang lain hidup enak, nyaman, bahagia tanpa cobaan merasa iri, padahal manusia yang dicoba bukan berarti hidupnya rendah disisi Allah.
Hakekatnya setiap manusia baik iman maupun kafir dalam kehidupan di dunianya pasti telah dan akan merasakan hal2 yang tidak menyenangkan (musibah), hanya bedanya bagi orang2 kafir musibah yg menimpanya itu merupakan balasan atas dosa yg telah dilakukannya dan (siksa itu) akan terus berlanjut hingga di akhirat (neraka).
Sedangkan bagi orang iman, musibah yg menimpanya itu adalah sebagai balasan atas kesalahan yg telah dilakukannya, untuk menghapus dosa dosanya tsb sehingga kelak di akhirat dia bersih dari dosa dan masuk surga, hal ini sesuai dengan Hadits;
قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَهْدِيٍّ السَّلَمِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ مِنْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَىاللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمْ قَالَ:سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَىاللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمْ يَقُولُ: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعِلْمِهِ ابْتَلَاهُ فِي جَسَدِهِ أَوْفِي مَلِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ۞
رواه ا بوداود في كتاب الجنائز
Berkata Ib-rohim bin Mahdiy (as-salamiy) dari bapaknya, dari kakeknya (sumber hadist), kakeknya adalah termasuk sahabat Rasululloh s.a.w dia berkata, Saya mendengar Rasululloh s.a.w bersabda :
"Sesungguhnya ketika seorang hamba telah di tetapkan (di tulis) derajat surganya di sisi Alloh namun (pahala) amalan hamba tersebut tidak bisa menyampaikan (mengantarkan) pada derajat surga yang telah di tetapkan (di tulis) untuknya maka Alloh akan memberikan cobaan kepada hamba tersebut melalui jasadnya (dirinya) atau melalui hartanya atau melalui anak2nya (sehingga Alloh memberikan kesabaran dan dengan kesabaranya menerima cobaan dari Alloh bisa mengantarkan hamba tersebut pada derajat surga yang telah di tetapkan untuknya)
(HR. Abu Dawud fi kitabul jana'iz)
Dan ternyata cobaan yang paling berat justru diberikan kepada para Nabi, sebagaimana hadits.
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in dari ayahnya, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat cobaannya ?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula cobaannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan dicoba sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.(HR. Muslim dan ibnu Majah)
Senantiasa cobaan menimpa orang iman laki laki dan orang iman perempuan pada dirinya, harta dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa. (HR. At-Tirmidzi No. 2399)
Di hari kiamat nanti akan didatangkan penghuni neraka dari seorang penduduk dunia yang paling mendapatkan kebahagiaan, lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sekali celupan, kemudian ditanya : “Wahai anak keturunan Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan ? Apakah kamu pernah mendapatkan kenikmatan?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.” Dan akan didatangkan seorang yang paling menderita di dunia dari penduduk surga lalu ia dicelupkan ke dalam surga sekali celupan, kemudian ditanya: “Wahai anak keturunan Adam, pernahkah kamu melihat penderitaan ? Pernahkah kamu merasakan kesengsaraan ?” Ia menjawab: “Tidak demi Allah, wahai Rabbku. Tidak pernah aku mengalami penderitaan dan tidak pernah melihat kesengsaraan.” (HR. Muslim No. 2807).
Bergembiralah dengan musibah, nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِالْبَلاَءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُكُمْ بِالرَّخَاءِ
“Dan sungguh salah seorang dari mereka (yakni orang-orang yang sholih) merasakan senang terhadap cobaan seperti salah seorang kalian suka terhadap kemakmuran.” (HR. Ibnu Majah No. 3266).
Semoga manfaat dan barokah